
BANK Mandiri mencatat laba bersih sebesar Rp 8,9 triliun hingga Februari 2026. “Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7 persen secara tahunan menjadi Rp 8,9 triliun hingga Februari 2026,” kata Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini, dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Maret 2026.
Novita mengatakan pertumbuhan laba bersih Bank Mandiri terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat melalui Livin’ by Mandiri. Peningkatan transaksi itu turut mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi.
Hingga Februari 2026 volume transaksi melalui Livin’ by Mandiri mencapai lebih dari 738,7 juta kali sejak awal tahun, atau tumbuh sekitar 28 persen secara tahunan.
Novita menjelaskan peningkatan ini terjadi karena masyarakat semakin memanfaatkan berbagai layanan digital untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari. Misalnya untuk pembayaran tagihan, pembelian produk dan layanan digital, hingga transfer dana antar individu maupun pelaku usaha.
Seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang berasal dari berbagai layanan pembayaran, transfer, dan transaksi digital lainnya.
Bank Mandiri mencatat pendapatan berbasis komisi dari berbagai platform digital Bank Mandiri, termasuk Livin’ by Mandiri sebesar Rp 625 miliar atau meningkat 45,3 persen secara tahunan.
Sementara platform wholesale Kopra by Mandiri tercatat sebesar Rp 421 miliar atau tumbuh 29,3 persen tahunan, seiring dengan semakin tingginya volume transaksi nasabah di kanal digital perseroan.
Adapun Bank Mandiri mencatat pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 15,7 persen secara tahunan pada Februari ini. Bank Mandiri menyatakan telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1.513,1 triliun pada bulan kedua tahun ini.
Pertumbuhan kredit diikuti oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 1.644,8 triliun, atau meningkat 16,3 persen secara tahunan.
Kinerja intermediasi Bank Mandiri tetap terjaga yang tercermin dari pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp 13,7 triliun, atau tumbuh 9,16 persen secara tahunan.
Pada saat yang sama, Bank Mandiri mencatat efisiensi operasional yang membaik karena rasio Cost-to-Income Ratio (CIR) turun ke level 37,21 persen.
Dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri mencatat rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 0,98 persen, disertai coverage ratio sebesar 246,5 persen.
Dengan fundamental bisnis yang tetap kuat tersebut, Bank Mandiri optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan ke depan.
“Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis guna mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat keunggulan kompetitif perseroan,” kata Novita.
Pilihan Editor: Efek Perpanjangan Penempatan Uang Pemerintah di Bank Negara











