Asing net sell Rp 1,5 T jelang libur, saham BBCA, BMRI hingga BBRI beratkan IHSG

Dilansir dari KalselBabusalam.com, pasar saham domestik kembali menghadapi gelombang tekanan seiring berlanjutnya aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing. Pada pekan 9–13 Maret 2026, Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing melakukan net sell signifikan sebesar Rp 1,57 triliun. Angka ini berbalik arah drastis dari pekan sebelumnya yang masih membukukan net buy Rp 2,23 triliun, menandakan perubahan sentimen yang cukup tajam di kalangan investor global.

Koreksi ini sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 5,91% secara mingguan, bergerak dari level 7.585,68 menjadi 7.137,21. Penurunan IHSG juga diikuti oleh penyusutan aktivitas perdagangan, di mana nilai transaksi harian rata-rata menyusut dari Rp 24,9 triliun menjadi Rp 17,2 triliun pada pekan lalu. Selain itu, kapitalisasi pasar bursa turut tergerus hampir Rp 949 triliun dalam sepekan, mencapai Rp 12.678 triliun. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual yang meluas, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar.

Aksi profit taking dan pengurangan risiko oleh investor global di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi pemicu utama di balik tekanan jual ini, terutama setelah reli yang cukup impresif pada awal tahun. Saham-saham big caps yang memiliki bobot besar terhadap indeks menjadi sasaran utama aksi jual asing pekan ini.

Sektor perbankan, yang merupakan tulang punggung IHSG, merasakan dampak paling besar. Saham-saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami pelemahan. Tidak hanya itu, saham telekomunikasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), serta emiten dari sektor konglomerasi dan energi juga tak luput dari tekanan jual.

Beberapa emiten menjadi pemberat utama pergerakan IHSG. Koreksi tajam terlihat pada saham PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Meskipun sebagian saham batu bara dan komoditas lainnya masih mencatat kenaikan terbatas, tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar tersebut membuat indeks kesulitan untuk bertahan dan pulih.

Di tengah gelombang jual ini, aktivitas perdagangan tetap terkonsentrasi pada saham-saham dengan likuiditas tinggi. Nilai transaksi terbesar tercatat pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI), diikuti oleh saham-saham perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, serta TLKM. Emiten energi seperti ENRG, PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga mencatat nilai transaksi yang signifikan.

Dari sisi volume perdagangan, saham-saham grup energi dan konglomerasi seperti BUMI, GOTO, BNBR, dan BIPI tetap aktif diperdagangkan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa investor masih melakukan rotasi portofolio, meskipun secara agregat dana asing terus mengalir keluar dari pasar saham domestik.

Berikut adalah beberapa saham yang menjadi laggards IHSG pekan ini dengan penurunan signifikan:

  • BBRI turun 4,36%
  • TLKM turun 6,9%
  • BMRI turun 4,62%
  • BBCA turun 1,79%
  • ASII turun 4,9%
  • AMMN turun 19,18%
  • BREN turun 18,45%
  • DSSA turun 11,24%
  • ENRG turun 22,74%

Sementara itu, saham-saham dengan nilai transaksi terbesar menunjukkan minat investor pada beberapa emiten utama:

  • BUMI Rp 5,14 triliun
  • BBCA Rp 4,63 triliun
  • BMRI Rp 3,83 triliun
  • BBRI Rp 3,00 triliun
  • TLKM Rp 2,70 triliun
  • ENRG Rp 2,66 triliun
  • PTRO Rp 2,49 triliun
  • MEDC Rp 2,46 triliun

Tekanan di pasar domestik tidak dapat dilepaskan dari sentimen global yang cenderung negatif. Selama periode yang sama, mayoritas bursa di Asia dan emerging markets lainnya juga mengalami pelemahan, dengan Vietnam dan India bahkan turun lebih dari 5% dalam sepekan. Kondisi global ini mendorong investor asing untuk sementara waktu menarik dananya dari pasar negara berkembang.

Dengan berbaliknya posisi asing menjadi net sell, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan fluktuatif. Selama belum ada katalis positif yang kuat, baik dari ranah global maupun domestik, tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar berpotensi terus membatasi ruang penguatan indeks pada pekan-pekan mendatang. Jika aksi jual asing berlanjut pada pekan depan, IHSG memiliki kecenderungan untuk tetap bergerak melemah, khususnya tanpa adanya dorongan positif yang signifikan dari berbagai faktor pendorong pasar.