TIGA sastrawan yang menulis dalam bahasa daerah Sunda, Jawa, dan Bali, mendapat Hadiah Sastra Rancage 2026 atas buku terbitannya pada 2025. Yayasan Kebudayaan Rancage akan memberi penghargaan berupa piagam dan uang tunai sebesar Rp 7,5 juta ke masing-masing juara.

Pilihan Editor: Kisah Mantan Jurnalis Pemenang Hadiah Sastra Rancage 2025 untuk Sastra Batak

Pemenang untuk sastra Sunda yaitu Ari Andriansyah lewat kumpulan sajak berjudul Urat Jagat, kemudian sastra Jawa diraih Ki Sudadi lewat buku kumpulan cerita pendek berjudul Malaikat Cilik. Sementara pemenang sastra Bali adalah Ketut Sugiarta yang menulis novel Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari).

Ketua I Yayasan Kebudayaan Rancage, Etti RS mengatakan, buku yang dinilai oleh juri untuk Hadiah Sastra Rancage 2026 sebanyak 57 judul atau meningkat tiga judul dari tahun sebelumnya. Rinciannya, sebanyak 17 judul karya sastra Sunda, 25 judul karya sastra Jawa, 12 judul karya sastra Bali, dan 3 judul karya sastra Batak.

Namun begitu menurut Etti, hanya buku berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali yang dinilai tim juri. “Ada pun buku-buku dalam sastra Lampung, Batak, Madura, dan Banjar, belum ada yang memenuhi syarat untuk diberi hadiah tahun ini,” katanya saat membacakan keputusan Hadiah Sastra Rancage ke-38 di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Sabtu 31 Januari 2026.

Pameran foto dan buku Ajip Rosidi di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, 27 Januari 2026. Tempo/Anwar Siswadi

Dia berharap di tahun mendatang akan lebih banyak lagi buku yang terbit dari berbagai daerah. Nantinya menurut Etti, ada kemungkinan naskah yang dinilai tidak hanya buku, melainkan manuskrip atau calon buku. “Hal ini untuk mengantisipasi kesulitan pengarang dalam menerbitkan buku,” kata dia.

Dalam proses penilaian oleh dewan juri, para pemenang bersaing dengan karya sastrawan lain. Karya unggulan pada kategori sastra Sunda yaitu buku kumpulan cerita pendek Buta Linglung karangan Nena Cunara, serta kumpulan sajak Lokatmala dari Nita Widiati Efsa.

Sementara di sastra Jawa, calon pemenangnya ada Kang Ansorik yang membuat antologi geguritan berjudul Ngutug Ati. Kemudian antologi cerita pendek karangan Bambang Nugroho bertajuk Hotel Indah, serta novel DhaBenSu atau Dhadhung Benang Sutra karya Narko Sodrun Budiman.

Diskusi yang berlangsung dalam acara Ngalap Ajip di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, 27 Januari 2026. Tempo/Anwar Siswadi

Selain itu Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Jasa kepada Aan Merdeka Permana, seorang pengarang kelahiran Bandung 16 November 1950. Penghargaan itu diberikan kepada individu atau lembaga yang dinilai berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah. Diberikan sejak 1990, penghargaan itu sempat terhenti pada 2018 dan dilanjutkan lagi sejak 2025.

Hadiah tahunan sejak 1989 tanpa henti sebagai bentuk apresiasi untuk pengembangan sastra daerah di Indonesia itu merupakan warisan dari mendiang sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi yang wafat 29 Juli 2020 di usia 82 tahun. Mengiringi pengumuman Hadiah Sastra Rancage, komunitas kutu buku secara khusus menghelat acara Ngalap Ajip di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, sejak 14 Januari – 1 Februari 2026.

Di perpustakaan itu yang didirikan pada 2015 tersimpan ribuan koleksi buku Ajip yang diboyong dari rumahnya do Pabelan, Magelang, Jawa Tengah, agar bisa diakses oleh masyarakat. Menurut ketua panitia, Hafidz Azhar, acara Ngalap Ajip bertujuan meraih kebaikan dari sosok Ajip Rosidi. “Juga sebagai ucapan terima kasih kepada beliau untuk gedung perpustakaan dan karya-karyanya,” kata dia, Kamis 29 Januari 2026. Mereka menggelar pameran foto dan karya, buku-buku cetakan penerbitan, juga diskusi dengan berbagai tema seputar Ajip Rosidi.

Pilihan Editor: Kawabata dan Seni Terjemahan Sastra

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.