
KalselBabusalam.com – PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), emiten produsen permen jelly kenamaan, hingga kini masih menahan sebagian besar dana segar yang diperoleh dari penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Dana tersebut belum sepenuhnya direalisasikan untuk tujuan ekspansi atau pengembangan bisnis seperti yang diharapkan pasar.
YUPI mencatatkan perolehan dana IPO sebesar Rp 612,63 miliar pada tanggal 25 Maret 2025. Setelah dikurangi biaya penawaran umum senilai Rp 15,96 miliar, dana bersih yang berhasil dihimpun YUPI mencapai Rp 596,67 miliar. Namun, berdasarkan keterbukaan informasi per 13 Januari 2026, terungkap bahwa mayoritas dana bersih ini masih ditempatkan di PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dalam bentuk simpanan berjangka dengan tingkat bunga sekitar 5% dan jangka waktu penyimpanan satu bulan.
Meskipun demikian, belum terserapnya dana hasil IPO ini tidak serta-merta berdampak negatif pada kinerja keuangan YUPI dalam jangka pendek. Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, dilansir dari Kontan, Kamis (15/1/2026), menilai bahwa penambahan dana dari IPO justru memperkuat posisi kas dan likuiditas emiten. Hal ini secara signifikan membuat neraca keuangan YUPI berada dalam kondisi yang lebih aman dan solid.
Senada dengan pandangan tersebut, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dilansir dari Kontan, Kamis (15/1/2026), menjelaskan bahwa secara akuntansi, dana tersebut masih tercatat sebagai kas atau setara kas, sehingga memang memperkuat posisi likuiditas dan neraca perusahaan. Dampak terhadap laba juga relatif netral, bahkan bisa sedikit positif berkat adanya pendapatan bunga. Namun, hal ini memang belum memberikan dorongan langsung terhadap pertumbuhan pendapatan maupun peningkatan kapasitas produksi YUPI.
Namun, dari sisi ekspektasi pasar, kondisi ini bisa dipandang kurang positif. Investor umumnya berharap dana IPO segera digunakan untuk ekspansi strategis guna mendorong pertumbuhan pendapatan. Ketika dana tersebut belum dimanfaatkan, pasar mulai mempertanyakan kecepatan dan efektivitas eksekusi rencana bisnis yang telah disampaikan saat IPO. Ekky Topan menambahkan, “Terlebih jika tidak disertai klarifikasi yang jelas dari manajemen, hal ini dapat menimbulkan persepsi bahwa kemampuan manajemen dalam mengoptimalkan dana IPO masih dipertanyakan, sehingga berpotensi menekan minat terhadap saham YUPI.”
Liza Camelia Suryanata juga menekankan bahwa dalam jangka pendek, hal ini cenderung bersifat netral bagi investor. Pasar umumnya masih memberikan toleransi selama penggunaan dana masih sesuai prospektus dan dalam rentang waktu yang wajar. Namun, jika penundaan berlangsung terlalu lama tanpa komunikasi yang transparan, potensi sentimen negatif bisa muncul karena investor mendambakan dana IPO sebagai katalis ekspansi dan pertumbuhan, bukan sekadar mengendap di kas perusahaan.
Prospek Kinerja YUPI di Tahun 2026
Untuk prospek YUPI di tahun 2026, Ekky Topan berpendapat pergerakannya cenderung stagnan atau stabil. Sebagai emiten consumer goods dengan merek yang cukup kuat, YUPI tergolong defensif karena konsumsi produk camilan relatif stabil. Namun, dari sisi pertumbuhan, ruang ekspansi masih terlihat terbatas. Tantangan ke depan tetap ada, terutama terkait kenaikan biaya bahan baku dan fluktuasi nilai tukar rupiah. “Kecuali manajemen melakukan langkah ekspansi atau aksi strategis yang signifikan, arah fundamental YUPI ke depan kemungkinan tidak banyak berubah,” terang Ekky.
Rekomendasi Saham YUPI
Dari sisi rekomendasi, Ekky Topan melihat saham YUPI saat ini masih berada pada posisi wait and see. Sebagai emiten yang relatif baru IPO, rekam jejak kinerjanya masih perlu waktu untuk terbukti, ditambah lagi dengan belum bergeraknya penggunaan dana IPO. Oleh karena itu, bagi investor, saham YUPI saat ini lebih tepat menunggu adanya katalis, baik berupa kejelasan penggunaan dana, aksi ekspansi, maupun konfirmasi teknikal, sebelum mempertimbangkan masuk secara lebih agresif.
Secara teknikal, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, dilansir dari Kontan, Senin (19/1/2026), mengungkapkan bahwa pergerakan saham YUPI masih sideways dan tertahan MA20. Meskipun demikian, dalam dua hari belakangan ini, pergerakannya didominasi oleh volume pembelian. “Indikator MACD dan Stochastic juga masih melandai,” terang Herditya.
Berdasarkan analisis teknikal tersebut, Herditya merekomendasikan untuk melakukan speculative buy pada saham YUPI dengan target harga di rentang Rp 1.625 – Rp 1.640. Level support YUPI berada di Rp 1.595 dan level resistance di Rp 1.610 per saham.











