
KalselBabusalam.com – JAKARTA. Penyerapan instrumen Sukuk Ritel seri SR024 menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan seri sebelumnya, meskipun belum sepenuhnya kembali ke level optimal seperti periode tahun-tahun sebelumnya.
Hingga menjelang berakhirnya masa penawaran, tercatat bahwa SR024 telah berhasil terserap sekitar 81,66% dari target yang ditetapkan sebesar Rp 15 triliun. Capaian ini jelas lebih baik jika dibandingkan dengan penyerapan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI029 yang hanya mencapai sekitar 57,76% dari target Rp 25 triliun, bahkan menyisakan kuota yang cukup besar hingga masa penutupan penawaran.
Jika dibedah lebih lanjut berdasarkan data per Senin (13/4/2026) pukul 18.40 WIB, sisa kuota untuk tenor tiga tahun (SR024-T3) tinggal 9,8% atau setara dengan Rp 1,18 triliun. Sementara itu, untuk tenor lima tahun (SR024-T5) masih menyisakan 13% atau sekitar Rp 712,34 miliar. Kedua instrumen ini menawarkan imbal hasil yang kompetitif, masing-masing sebesar 5,55% untuk SR024-T3 dan 5,9% untuk SR024-T5. Periode penawaran instrumen investasi ini sendiri berlangsung sejak 6 Maret hingga 15 April 2026.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berpendapat bahwa peningkatan penyerapan SR024 tidak semata-mata dipengaruhi oleh daya tarik imbal hasilnya. Menurutnya, hal ini juga merupakan kombinasi dari momentum pasar yang tepat dan struktur permintaan investor yang dinamis.
Dibandingkan dengan seri sebelumnya, seperti ORI029 yang penjualannya hanya mencapai sekitar Rp 14,44 triliun dari kuota Rp 25 triliun, imbal hasil SR024 yang sedikit lebih tinggi — sekitar 10 basis poin di atas ORI029 — memang menjadi daya tarik utama. Namun, Yusuf menambahkan, faktor-faktor lain seperti dorongan reinvestasi dari seri SR018-T3 yang telah jatuh tempo, serta tambahan likuiditas yang mengalir dari momentum tunjangan hari raya (THR), turut memperkuat minat beli investor.
“Pada saat yang sama, investor juga mulai melihat ini sebagai kesempatan untuk mengunci yield sebelum tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi,” ujar Yusuf, dilansir dari Kontan, Senin (13/4/2026). “Jadi ada perpaduan antara faktor teknis dan ekspektasi makro yang saling mendukung.”
Meskipun menunjukkan perbaikan yang menggembirakan, Yusuf tetap mengingatkan bahwa minat investor ritel secara absolut belum sepenuhnya pulih ke level tertinggi. Pada tahun-tahun sebelumnya, sejumlah seri Surat Berharga Negara (SBN) ritel mampu terserap mendekati bahkan melampaui target yang ditetapkan, sementara penyerapan SR024 masih berada di bawah capaian tersebut.
Dari sisi preferensi tenor, Yusuf mencermati kecenderungan investor untuk memilih tenor pendek, khususnya SR024-T3, sebagai hal yang sangat wajar di tengah iklim ketidakpastian global yang masih membayangi. Investor dinilai cenderung menghindari risiko durasi dengan tidak mengunci dana terlalu lama pada instrumen fixed rate, terutama di tengah ekspektasi penurunan suku bunga di masa mendatang. Tenor yang lebih pendek memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi investor untuk melakukan reinvestasi pada kondisi pasar yang berpotensi lebih menguntungkan.
Selain itu, kebutuhan likuiditas yang masih tinggi di kalangan investor ritel juga mendorong mereka untuk memilih instrumen dengan horizon investasi yang lebih singkat. Ditambah lagi, selisih imbal hasil antara tenor tiga tahun dan lima tahun yang hanya sekitar 35 basis poin dinilai belum cukup menarik untuk mengompensasi tambahan risiko durasi yang melekat pada tenor lebih panjang. “Secara risk-reward, tenor pendek memang terasa lebih optimal. Faktor psikologis juga berperan, karena tenor tiga tahun lebih mudah dipahami dan direncanakan dibanding lima tahun,” pungkasnya.











