l
BATULICIN – KALSELBABUSALAM.COM
Selama ini, nama Syamsudin Andi Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam identik dengan imperium bisnis Jhonlin Group dan ketegasan dalam memimpin korporasi skala nasional. Namun, sebuah momen langka yang tertangkap kamera baru-baru ini mengungkap narasi berbeda: sisi humanis seorang kakek di balik tirai kekuasaan bisnisnya.
Dalam foto yang beredar di kalangan terbatas dan redaksi, pengusaha asal Kalimantan Selatan tersebut tampak melepaskan atribut formalnya. Ia terlihat bersahaja saat menghabiskan waktu bersama sang cucu, sebuah kontras visual yang tajam dibandingkan citranya yang selama ini dikenal disiplin dan kaku.
Momen kehangatan ini bukan sekadar potret keluarga biasa. Publik menangkap pesan adanya titik keseimbangan (equilibrium) antara tanggung jawab besar mengelola berbagai lini usaha dengan peran domestik sebagai kepala keluarga.
Bagi figur sekelas Haji Isam, keluarga bukan sekadar pelabuhan, melainkan fondasi prinsipil. Ia menegaskan bahwa kesuksesan seorang pria tidak hanya diukur dari angka-angka di atas kertas laporan keuangan.
“Keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari capaian materi dan bisnis, tetapi juga dari keharmonisan keluarga serta nilai-nilai kasih sayang yang terus dijaga dan diwariskan,” ujar Haji Isam dalam sebuah kesempatan yang menekankan pentingnya nilai kekeluargaan.
Kombinasi antara ketegasan di lapangan usaha dan kelembutan terhadap cucu mencerminkan struktur kepribadian yang utuh. Di dunia usaha, ia disegani karena keteguhan prinsip; namun di rumah, ia adalah sosok penyayang yang menjunjung tinggi transmisi nilai kepada generasi penerusnya.
Kesan sederhana yang ditampilkan dalam momen tersebut seolah memvalidasi bahwa di tengah kesibukan menggerakkan roda ekonomi nasional, aspek kemanusiaan tetap menjadi prioritas tertinggi. Hal inilah yang membuat publik melihat sisi lain sang pengusaha—bukan sebagai tokoh bisnis yang berjarak, melainkan sebagai sosok yang mengedepankan nilai-nilai fundamental manusia.










