KalselBabusalam.com – Pelaksanaan Sidang Isbat penentuan awal 1 Ramadan 1447 H/2026 M kali ini diwarnai perubahan lokasi yang tidak biasa. Berbeda dari tradisi sebelumnya yang rutin digelar di kantor Kementerian Agama di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, tahun ini Sidang Isbat dipindahkan ke Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengklarifikasi alasan di balik keputusan ini. Ia menjelaskan bahwa pemindahan lokasi adalah langkah antisipasi teknis. Hal ini disebabkan adanya proyek pembangunan infrastruktur oleh Kementerian PU di sekitar Jalan Thamrin, yang berdampak pada keterbatasan area parkir dan kondisi jalan yang menjadi lebih sempit. “Jalan Thamrin itu sedang dikerjakan oleh PU, jadi kita enggak ada parkir, bahkan sempit ya. Maka dikhawatirkan terganggu tidak ada tempat parkir, gimana ya. Nah, maka itu kita tahun ini kita pindahkan ke sini dulu ya,” ungkap Nasaruddin saat tiba di Hotel Borobudur, Selasa (17/2). Ia juga menyatakan harapannya agar pada tahun-tahun mendatang, Sidang Isbat dapat kembali ke lokasi semula. “Mudah-mudahan nanti pada akan datang kita kembali seperti biasa ya. Itu yang pertama, jadi jangan sampai nanti ditanggapi kok pindah ke hotel dari kantor, itu hanya karena faktor teknis,” tambahnya, menegaskan bahwa perubahan ini semata karena kendala teknis.
Nasaruddin lebih lanjut memastikan bahwa seluruh persiapan untuk pelaksanaan Sidang Isbat hari ini telah matang dan berjalan sesuai rencana. “Yang kedua persiapannya kita sudah selesai. Jadi seperti normatif, seperti tahun yang lalu, nggak ada masalah teknis, hanya tempatnya aja berbeda,” jelasnya, menjamin bahwa meski lokasi berbeda, kualitas dan kelancaran sidang akan tetap terjaga.
Sidang Isbat
Kementerian Agama menggelar Sidang Isbat pada Selasa, 17 Februari 2026, sebagai forum penting untuk menentukan awal 1 Ramadan. Rapat krusial ini dipimpin oleh Menteri Agama bersama dengan para pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Islam lainnya. Dalam penentuan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, Indonesia mengadopsi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), sebuah standar yang juga digunakan di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura. Berdasarkan kriteria MABIMS ini, penampakan hilal (bulan sabit muda) baru dianggap sah apabila tinggi hilal minimal mencapai 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Oleh karena itu, Sidang Isbat menjadi vital, menghadirkan perwakilan dari Kementerian Agama, DPR, hingga ormas Islam untuk bersama-sama memutuskan kapan Ramadan dimulai.
Muhammadiyah Ramadan 18 Februari
Berbeda dengan Sidang Isbat, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Keputusan ini secara resmi tertuang dalam surat Nomor 01/MLM/I.1/B/2026. Menariknya, Muhammadiyah sempat merevisi keputusan awal yang sebelumnya menempatkan 1 Ramadan pada 19 Februari 2026. Setelah dilakukan peninjauan ulang data astronomis global dan validasi menyeluruh terhadap parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), akhirnya dipastikan bahwa 1 Ramadan 1447 H bertepatan dengan Rabu Legi, 18 Februari 2026 M. Sementara itu, untuk 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri, Muhammadiyah menetapkannya pada Jumat, 20 Maret 2026. Sebagai informasi tambahan, kalender cetak Muhammadiyah pada awalnya mencantumkan 1 Ramadan 1447 H pada tanggal 19 Februari 2026 sebelum terjadi revisi tersebut.









