
Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan akan menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan hari ini, 2 September 2022. Pengamat pasar mata uang terkemuka, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan kurs rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.370 hingga Rp 16.430 per dolar AS. Proyeksi positif ini mengikuti penutupan kemarin di level Rp 16.428 per dolar AS, yang mencatatkan penguatan 71 poin dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.
Penguatan rupiah ini didorong oleh beberapa faktor global, salah satunya adalah pelemahan dolar AS di pasar internasional. Menurut Ibrahim Assuaibi, pelemahan mata uang Paman Sam tersebut tidak terlepas dari keputusan penting pengadilan banding Amerika Serikat. Pengadilan tersebut baru-baru ini menetapkan bahwa sebagian besar kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh mantan Presiden Donald Trump adalah tindakan ilegal. Putusan ini, sebagaimana dijelaskan Ibrahim dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 1 September 2025, telah memicu pertanyaan besar mengenai kelanjutan bea atas impor produk Cina yang bernilai ratusan miliar dolar.
Selain dampak putusan pengadilan, investor global juga terus memantau dengan cermat tanda-tanda tekanan politik terhadap bank sentral AS. Pekan lalu, Presiden Donald Trump diberitakan berupaya memberhentikan Gubernur Federal Reserve, Lisa Cook, dengan dalih dugaan penipuan hipotek pada tahun 2021. Namun, Cook dengan tegas menolak otoritas Trump untuk memberhentikannya dan telah melayangkan gugatan hukum sebagai perlawanan terhadap pemecatan tersebut.
Di sisi domestik, sentimen positif terhadap rupiah juga diperkuat oleh data ekonomi Indonesia yang menggembirakan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global mencatat kenaikan signifikan ke level 51,1 pada Agustus 2025. Angka ini menandai kembalinya sektor manufaktur Indonesia ke fase ekspansi, setelah sebelumnya terkontraksi selama empat bulan berturut-turut, memberikan indikasi pemulihan aktivitas ekonomi yang kuat.
Faktor internal lain yang turut menopang nilai tukar rupiah adalah kinerja neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia berhasil mencatatkan surplus sebesar US$ 4,17 miliar pada Juli 2025. Prestasi ini semakin istimewa mengingat Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, sebuah rekor konsistensi yang luar biasa dan mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional. Informasi terkait dinamika pasar mata uang dan analisis ekonomi komprehensif juga dapat ditemukan di KalselBabusalam.com.
Pilihan Editor: Peluang Kripto Stablecoin Rupiah Menjadi Alat Transaksi Baru










