KalselBabusalam.com JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan tekanan signifikan hingga penutupan perdagangan pada Jumat (6/2/2026). Mata uang Garuda ini resmi mengakhiri sesi di level Rp 16.876 per dolar Amerika Serikat (AS).

Angka penutupan tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,2% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 16.842 per dolar AS. Kondisi ini menegaskan tren depresiasi yang terus membayangi pergerakan rupiah.

Sementara itu, dinamika pergerakan mata uang di kawasan Asia pada pukul 15.00 WIB menunjukkan variasi yang cukup beragam. Beberapa mata uang regional terpantau merosot, sementara yang lain berhasil mempertahankan penguatan.

Di antara mata uang yang paling tertekan, rupee India tercatat sebagai yang terlemah dengan penurunan tajam 0,46%. Disusul kemudian oleh won Korea Selatan yang ambles 0,39%, dan dolar Taiwan yang juga tidak luput dari tekanan, melemah tipis 0,04%. Yuan China pun terlihat bergerak di zona merah dengan koreksi 0,03% terhadap the greenback menjelang sore hari.

Namun, tidak semua mata uang Asia mengalami nasib serupa. Baht Thailand tampil sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, melonjak signifikan 0,37%. Setelah itu, peso Filipina turut menguat sebesar 0,21%, menunjukkan ketahanan di tengah fluktuasi pasar.

Dolar Singapura dan yen Jepang juga berhasil mencatatkan penguatan masing-masing 0,11%. Disusul oleh dolar Hong Kong yang naik 0,02%, serta ringgit Malaysia yang menguat tipis 0,01%, melengkapi daftar mata uang yang mampu mengapresiasi nilainya terhadap dolar AS.

OJK Optimistis Target Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tercapai, Ini Pendorognya

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.