Dukungan Indonesia dan Brasil untuk Kemerdekaan Palestina
Presiden Republik Indonesia, Jenderal (Purn) Prabowo Subianto, dan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, secara bersama-sama menunjukkan dukungan kuat terhadap upaya Palestina menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kebijakan ini dinilai penting agar Palestina memiliki posisi yang setara dengan Israel dalam mencapai solusi dua negara.
Saat ini, Palestina masih berstatus sebagai negara non-anggota pengamat permanen di PBB. Meskipun sebagian besar negara anggota PBB telah mendukung pengakuan status penuh Palestina, hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang mengubah status tersebut. Sementara itu, Israel telah menjadi anggota penuh PBB sejak 1949.
Dalam pernyataannya, Presiden Lula menyampaikan bahwa pengakuan terhadap Palestina sebagai negara penuh di PBB diperlukan untuk memastikan keseimbangan yang dibutuhkan dalam mewujudkan solusi dua negara. Ia juga menekankan bahwa Indonesia dan Brasil tidak pernah ragu untuk mengkritik tindakan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza. “Kami tidak akan diam saat melihat pelanggaran yang jelas-jelas terjadi,” ujarnya.
Presiden Prabowo merespons dengan menyatakan bahwa kedua negara sepakat bahwa hanya solusi dua negara yang dapat mengakhiri krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap sikap tegas Presiden Lula dalam isu ini.
Selain fokus pada Palestina, pertemuan bilateral antara Prabowo dan Lula juga membahas isu global lainnya, seperti konflik Rusia-Ukraina. Prabowo menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Group of Friends for Peace, sebuah kelompok yang bertujuan untuk menjembatani perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Kelompok ini digagas oleh Brasil dan Tiongkok, serta didukung oleh sejumlah negara berkembang dari Global South.
Upaya Bersama untuk Reformasi PBB
Prabowo juga menegaskan bahwa reformasi PBB sangat diperlukan untuk meningkatkan partisipasi negara-negara besar dalam tata kelola global. Ia menyarankan kolaborasi lebih erat antara negara-negara seperti India, Afrika Selatan, Mesir, Nigeria, Jerman, Jepang, dan Meksiko. Menurutnya, kerja sama ini bisa menjadi fondasi untuk mereformasi sistem internasional yang lebih adil dan efektif.
Pertemuan ini juga menjadi kesempatan bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan diplomatik dan kerja sama ekonomi. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo didampingi oleh sejumlah menteri dan pejabat tinggi dari Kabinet Merah Putih. Di antaranya adalah Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Perdagangan Budi Santoso, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Sementara itu, Presiden Lula hadir bersama para menteri dan pejabat pemerintahan Brasil. Beberapa di antaranya adalah Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, Menteri Pertanian Carlos Henrique Baqueta Fávaro, dan Menteri Lingkungan Hidup Marina Silva. Pertemuan ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk bekerja sama dalam berbagai isu global, baik dalam konteks kemanusiaan maupun diplomasi internasional.




