
LEMBAGA pemeringkat dunia, Standard & Poor’s Global Ratings (S&P), melaporkan Purchasing Managers Index atau PMI manufaktur Indonesia pada Desember 2025 masih berada di zona ekspansi. Meski demikian PMI manufaktur tercatat turun dari angka 53,3 pada November menjadi 51,2 pada Desember.
Ambang batas ekspansi PMI manufaktur adalah 50. Di bawah itu tergolong level kontraksi. Ini merupakan level ekspansi PMI yang terjadi selama 5 bulan beruntun, namun pertumbuhannya melandai. “Pertumbuhan berlanjut ke bulan kelima, meskipun laju kenaikannya melambat dibandingkan November,” demikian laporan S&P Global pada Jumat, 2 Januari 2026.
Berdasarkan laporan S&P, penyebab utama PMI masih di zona ekspansi adalah kenaikan pada permintaan baru. Pertumbuhan manufaktur pada Desember sepenuhnya didukung pasar domestik karena permintaan ekspor terus melemah dalam empat bulan terakhir.
Masalah kelangkaan bahan baku menyebabkan output pada Desember hanya tumbuh tipis. Meski demikian masih ada kenaikan tenaga kerja meski tak setinggi pada November. “Sejalan dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan produksi, produsen menaikkan ketenagakerjaan pada Desember. Laju penciptaan lapangan kerja tergolong marginal, lebih lambat dibandingkan November.”
Meski jumlah tenaga kerja bertambah, masih ada indikasi tekanan pada kapasitas sebagai dampak dari pertumbuhan pesanan baru. Oleh karena itu, perusahaan mencatat kenaikan tumpukan pekerjaan dua bulan berturut-turut”
Meski jumlah pekerja sudah ditambah, kapasitas produksi masih kewalahan menangani lonjakan pesanan baru yang masuk. Kondisi ini menyebabkan penumpukan pekerjaan selama dua bulan beruntun.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan Sektor manufaktur Indonesia menutup tahun 2025 dengan perbaikan kondisi operasional berkelanjutan. “Prospek tahun mendatang juga membaik, produsen menunjukkan tingkat optimisme terkuat dalam tiga bulan terakhir,” ujarnya.
Sebagai dampak ekspektasi yang positif, perusahaan berupaya meningkatkan persediaan barang untuk menjaga efisiensi proses produksi dan penyelesaian pesanan. Namun, sektor manufaktur masih dibayangi oleh inflasi biaya produksi yang signifikan.
Perusahaan juga memilih untuk membebankan kenaikan biaya kepada konsumen. Dengan kenaikan harga jual terbaru tercatat lebih kuat dibandingkan rata-rata sepanjang tahun 2025.
Pilihan Editor: Apa Dampaknya Jika Impor Beras Industri Disetop











