Pemerintah diminta jamin keselamatan pekerja migran

DIREKTUR Eksekutif Migrant CARE Wahyu Susilo mendesak pemerintah Indonesia segera memastikan kondisi pekerja migran di Timur Tengah imbas serangan Amerika-Israel terhadap Iran.

“Dengan membuka kanal informasi dan pengaduan di wilayah-wilayah terdampak perang dan terus-menerus mengupdate situasi,” kata Wahyu, dalam keterangan tertulis, Ahad, 1 Maret 2026.

Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan militer terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Mereka menargetkan para pemimpin tertinggi Iran dan menjerumuskan Timur Tengah ke dalam konflik yang makin meluas.

Wahyu mengatakan eskalasi perang yang terjadi Timur Tengah bisa berdampak langsung terhadap ratusan ribu pekerja migran yang berada di Timur Tengah.

Menurutnya, konflik tersebut memicu ketidakpastian dan menimbulkan rasa ketakutan bagi pekerja migran yang berasa dekat di lokasi perang. Kondisi itu, kata Wahyu, membuat mereka merasa tidak aman dan selalu berada dalam ancaman.

Atas situasi tersebut, Migrant CARE juga mendesak pemerintah untuk menyiapkan langkah dan rencana kontinjensi demi keselamatan pekerja migran Indonesia di kawasan tersebut.

Diberitakan sebelumnya, beberapa ledakan terdengar di Teheran, ibu kota Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, menyusul serangan yang dilancarkan Israel. Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan pada Al Jazeera bahwa serangan terhadap Iran dilakukan sebagai operasi militer gabungan antara Abang Sam dan Israel.

Ledakan juga terdengar di Qatar; Kuwait; Abu Dhabi Uni Emirat Arab dan Manama, Bahrain yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat pada Sabtu 28 Februari 2026. Ini setelah rudal diluncurkan dari Iran ke arah Israel menyusul serangan Israel dan AS, kata para pejabat seperti dilansir Anadolu dan Ail Jazeera.

Menyusul serangan tersebut, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab menutup wilayah udara mereka. Bahrain telah mengkonfirmasi bahwa markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS telah menjadi sasaran serangan rudal.

Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa sebuah rudal Iran telah dicegat oleh sistem pertahanan Patriot. Sedangkan Irak yang bertetangga dengan Iran, juga menutup wilayah udaranya untuk menghindari tembakan salah arah. Sementara sirine terdengar di Yordania untuk mengingatkan rakyat atas status darurat.

Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, dalam rilis yang dikirim kepada Tempo pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyatakan serangan gabungan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap lokasi-lokasi sipil dan infrastruktur vital di Teheran serta beberapa kota lain merupakan pelanggaran integritas teritorial serta kedaulatan nasional Republik Islam Iran.

Serangan ini, menurut Kedutaan, juga merupakan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat 4 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tindakan agresi yang nyata terhadap Republik Islam Iran.

“Menanggapi agresi tersebut merupakan hak yang sah dan legitimate Republik Islam Iran berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan menggunakan hak tersebut sepenuhnya dalam rangka mempertahankan integritas teritorial dan kedaulatan nasional Republik Islam Iran dengan memberikan respons yang tegas dan kuat terhadap agresi rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat,” demikian pernyataan Kedubes Iran.

Sebagai negara pendiri PBB, yang tujuan utamanya adalah mencegah agresi, pelanggaran perdamaian, dan ancaman terhadap perdamaian, Republik Islam Iran menekankan tanggung jawab Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan dalam menghadapi pelanggaran perdamaian dan keamanan internasional akibat agresi terang-terangan rezim Zionis terhadap Iran.

Republik Islam Iran mendesak ketua dan para anggota Dewan Keamanan segera mengambil langkah dalam urusan ini.

Sita Planasari berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor:Naik-Turun IHSG dan Rupiah Akibat Perang Iran-Israel