
Minat investor global terhadap aset private market diproyeksikan akan terus melonjak hingga tahun 2026. Peningkatan signifikan ini didorong oleh kebutuhan mendesak akan diversifikasi portofolio serta pesatnya laju perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) yang mengubah lanskap investasi secara fundamental.
Dilansir KalselBabusalam.com dari laporan JPMorgan Alternative Investments Outlook 2026 pada Sabtu (16/5/2026), total aset kelolaan (AUM) private market di seluruh dunia kini telah menembus angka US$ 20 triliun. Angka fantastis ini mencerminkan pergeseran struktural yang mendalam di pasar modal global, di mana perusahaan kini cenderung bertahan lebih lama sebagai entitas privat dan mencari pendanaan melalui berbagai instrumen seperti venture capital, growth equity, hingga private equity buyout.
JPMorgan menilai, perubahan dinamis ini membuka gerbang peluang investasi yang jauh lebih luas bagi para investor. Mereka kini memiliki kesempatan untuk masuk lebih awal dalam siklus pertumbuhan perusahaan. “Perusahaan yang sebelumnya sangat bergantung pada pasar publik kini dapat mengakses sumber pendanaan privat dalam jumlah besar untuk mengakselerasi ekspansi bisnis mereka,” demikian tertulis dalam laporan JPMorgan.
Selain diversifikasi, tren AI menjadi katalisator utama yang menggerakkan pertumbuhan private market pada tahun-tahun mendatang. Seiring dengan adopsi AI yang beralih dari fase uji coba menuju implementasi skala besar, kebutuhan pendanaan untuk infrastruktur digital melonjak drastis. Berbagai segmen seperti private equity, private credit, dan dana infrastruktur kini banyak digunakan untuk membiayai pembangunan pusat data (data center), jaringan pendukung canggih, hingga infrastruktur energi yang vital untuk menopang ekosistem AI.
JPMorgan juga mengamati bahwa belanja besar oleh perusahaan hyperscaler global telah menggeser sebagian peluang investasi dari pasar saham publik menuju pasar privat yang lebih gesit. Di sisi lain, kemunculan perusahaan AI baru seperti DeepSeek dari China turut menyoroti tingginya risiko konsentrasi di pasar saham publik, terutama pada saham-saham teknologi berkapitalisasi jumbo di kelompok “Magnificent 7” yang mendominasi indeks S&P 500. Bagi investor yang mulai mencermati valuasi mahal saham teknologi publik, private market menyajikan eksposur terhadap tema AI dengan valuasi yang relatif lebih menarik, khususnya di segmen small dan mid-market.
Meskipun demikian, meningkatnya minat terhadap private market juga turut memunculkan kewaspadaan akan risiko valuasi berlebihan dan potensi gelembung aset. Aktivitas transaksi dan exit investasi yang sempat melambat pada tahun 2025 sempat menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai keberlanjutan pertumbuhan sektor ini. Namun, JPMorgan dengan tegas menyatakan bahwa perkembangan private market lebih mencerminkan perubahan struktural yang fundamental dalam sistem pembiayaan global, alih-alih sekadar siklus sementara.
Dalam segmen private credit, JPMorgan meyakini instrumen ini masih menawarkan imbal hasil yang sangat atraktif dibandingkan obligasi publik, terutama mengingat kecilnya kemungkinan resesi global pada tahun 2026. Sebagai contoh, senior secured direct lending di Amerika Serikat masih dapat memberikan yield sekitar 200 basis poin di atas leveraged loan dan sekitar 300 basis poin lebih tinggi dibanding obligasi high yield AS.
Meski sempat ada kekhawatiran pasca kegagalan pembayaran utang oleh sejumlah perusahaan AS pada tahun 2025, JPMorgan menekankan bahwa kasus tersebut lebih bersifat spesifik per emiten dan belum mengindikasikan risiko sistemik yang lebih luas. Private credit pun diperkirakan akan terus menjadi sumber pembiayaan utama bagi transaksi private equity, perusahaan skala menengah, hingga berbagai aksi korporasi strategis seperti akuisi dan rekapitalisasi.
Sementara itu, private equity diprediksi akan kembali mencatat pertumbuhan positif pada tahun 2026, seiring dengan ekspektasi penurunan suku bunga global yang diharapkan mampu mendorong aktivitas merger, akuisisi, dan initial public offering (IPO). JPMorgan mencatat bahwa indeks private equity global telah berhasil menghasilkan alpha sekitar 500 basis poin per tahun di atas pasar saham publik dalam satu dekade terakhir. Kawasan Asia Pasifik juga diidentifikasi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan private equity global, ditandai dengan peningkatan signifikan pada aktivitas transaksi dan pasar sekunder.
Di tengah volatilitas ekonomi dan geopolitik global yang terus berlanjut, hedge fund juga diproyeksikan akan semakin diminati oleh investor sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang efektif. Menurut JPMorgan, fluktuasi pasar, perbedaan kebijakan bank sentral, hingga ketegangan geopolitik justru menciptakan peluang alpha yang lebih besar bagi strategi hedge fund berbasis makro dan relative value.
Secara keseluruhan, JPMorgan menegaskan bahwa private market akan tetap menjadi salah satu tema investasi paling dominan pada tahun 2026. Dominasi ini didorong oleh transformasi revolusioner AI, kebutuhan fundamental akan diversifikasi, serta perubahan struktural yang berkelanjutan dalam sistem pembiayaan global.











