Dilansir dari KalselBabusalam.com, aktivitas Gunung Merapi terus menunjukkan dinamika tinggi. Pada Minggu, 2 November 2025, gunung berapi paling aktif di Pulau Jawa ini kembali meluncurkan awan panas guguran sebanyak dua kali. Kejadian pertama tercatat pada pukul 11.04 WIB dengan jarak luncur mencapai 2.500 meter, berlangsung selama 279,5 detik. Selang beberapa menit, pada pukul 11.11 WIB, awan panas guguran kedua meluncur sejauh 2.000 meter dengan durasi 236,4 detik. Kedua peristiwa ini disertai oleh guguran lava pijar yang seluruhnya mengarah ke sektor barat daya, tepatnya ke hulu Kali Sat/Putih dan Kali Krasak.
Meskipun aktivitas vulkanik yang intens ini terus berlangsung, status Gunung Merapi pada November 2025 masih tetap berada pada Level III atau Siaga. Status ini belum mengalami perubahan, baik penurunan maupun peningkatan, sejak pertama kali ditetapkan pada 5 November 2020 silam. Kondisi ini menjadi pengingat bagi masyarakat akan potensi bahaya yang selalu mengintai.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa sebelum awan panas guguran pada Minggu tersebut, Gunung Merapi telah menunjukkan aktivitas signifikan. Ia menyebutkan, Merapi sebelumnya meluncurkan setidaknya empat kali guguran lava pijar ke arah Kali Krasak dan Kali Sat/Putih sejauh 2.000 meter. “Sehari sebelumnya, pada Sabtu, 1 November, Merapi juga telah meluncurkan 21 kali guguran lava ke arah barat daya, meliputi Kali Bebeng, Kali Sat, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur mencapai 1.900 meter,” kata Agus pada Minggu.
Diguyur Hujan
Selain aktivitas vulkanik, cuaca di sekitar puncak Gunung Merapi juga menjadi perhatian. Sejak Oktober hingga memasuki November ini, puncak gunung tersebut terus diguyur hujan. Pada Sabtu, misalnya, sejak pukul 13.36 WIB, hujan dengan intensitas 3 milimeter dan durasi 18 menit (atau 18 milimeter/jam) terjadi di lereng selatan Merapi, berlangsung hingga malam hari. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi lahar. “Jadi, selain awan panas, masyarakat juga diimbau untuk tetap mewaspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi di daerah potensi bahaya. Jauhi daerah bahaya dan patuhi rekomendasi yang telah diberikan,” tegas Agus.
Berdasarkan hasil pengamatan BPPTKG Yogyakarta periode 24 hingga 30 Oktober 2025, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, namun sering berkabut saat siang hingga sore hari. Sepanjang periode pengamatan tersebut, Gunung Merapi secara konsisten mengeluarkan asap berwarna putih dengan ketebalan bervariasi dari tipis hingga tebal, bertekanan lemah, dan tinggi asap yang mencapai antara 25 hingga 350 meter.
Dalam periode yang sama, tercatat dua kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter yang mengarah ke hulu Kali Krasak dan Kali Sat/Putih. Aktivitas guguran lava pijar juga teramati sebanyak 26 kali ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimum 2.000 meter, dua kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimum 1.000 meter, dan 33 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimum 2.000 meter.
Dari aspek perubahan morfologi, BPPTKG mengidentifikasi adanya sedikit perubahan pada Kubah Barat Daya Gunung Merapi, yang diakibatkan oleh perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava yang terus-menerus. Sementara itu, untuk Kubah Tengah, tidak teramati adanya perubahan morfologi yang signifikan. Analisis foto udara terbaru pada 8 Oktober 2025 menunjukkan bahwa volume Kubah Barat Daya tercatat sebesar 4.414.900 meter kubik, sedangkan volume Kubah Tengah adalah 2.368.800 meter kubik. Data ini menjadi acuan penting dalam memantau potensi bahaya erupsi Gunung Merapi.








