KalselBabusalam.com – Perkembangan terkini kondisi Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras, menyisakan harapan dan kekhawatiran. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, pada Rabu, 18 Maret 2026, di Jakarta Pusat, mengabarkan bahwa bola mata Andrie dalam kondisi utuh, meskipun fungsi penglihatannya dikhawatirkan tidak dapat kembali pulih 100 persen seperti sedia kala.

Menurut hasil pemeriksaan medis yang disampaikan Dimas, Andrie mengalami trauma mata akut dengan tingkat keparahan skala 3 dari 4. Meskipun demikian, catatan penting dari dokter menunjukkan bahwa bola mata Andrie masih utuh. “Sudah ada penanganan segera dari tim dokter untuk kondisi bola matanya,” jelas Dimas, menekankan bahwa respons medis telah dilakukan dengan cepat dan sigap untuk menyelamatkan penglihatan Andrie Yunus.

Lebih lanjut, Dimas membeberkan bahwa tim medis telah melakukan langkah progresif berupa operasi sel punca atau stem cell pada mata Andrie. Prosedur vital ini dilaksanakan pada 14 Maret 2026, meliputi pemindahan sel punca dari mata kiri ke mata kanan. Secara keseluruhan, kondisi mata korban penyiraman air keras ini tidak menunjukkan kerusakan yang bersifat destruktif atau merusak jaringan secara masif. Kendati demikian, kekhawatiran utama tetap pada penurunan fungsi mata yang tidak bisa kembali sempurna, meski dipastikan ia tidak akan mengalami kebutaan total.

Sebelum informasi terbaru dari KontraS ini, Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) sempat merilis pembaruan kondisi Andrie. Yoga Nara, Kepala Humas RSCM, dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 16 Maret 2026, menginformasikan bahwa permukaan kornea mata Andrie mengalami kerusakan signifikan. Kondisi ini secara langsung berdampak pada penurunan ketajaman penglihatan Andrie serta kerusakan pada permukaan kornea, yang menjadi fokus utama penanganan medis.

Menanggapi kondisi kritis tersebut, tim medis RSCM segera mengambil tindakan serius. Mereka melakukan pembersihan jaringan yang rusak pada mata kanan Andrie Yunus dan dilanjutkan dengan transplantasi membran amnion. Tindakan ini krusial untuk melindungi permukaan mata yang rentan. Selanjutnya, Andrie dijadwalkan untuk menjalani perawatan intensif di High Care Unit (HCU) guna mendapatkan perawatan komprehensif dari tim medis multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis mata, bedah plastik rekonstruksi, serta tim medis kegawatdaruratan.

Terapi yang diberikan kepada Andrie sangat beragam, meliputi perawatan luka yang teliti, pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi, obat anti-inflamasi untuk mengurangi peradangan, suplemen vitamin untuk mendukung pemulihan sel, serta pengobatan khusus untuk menjaga tekanan bola mata agar tetap terkontrol. Setiap langkah ini dirancang untuk memaksimalkan peluang pemulihan Andrie.

Insiden penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.37 WIB. Dua orang tidak dikenal menyerang Andrie di Jalan Salemba I Talang, Jakarta Pusat. Setelah kejadian nahas tersebut, ia segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSCM pada Jumat dini hari, 13 Maret 2026, sekitar pukul 12 malam. Andrie tiba di rumah sakit dengan keluhan luka bakar parah pada wajah, leher, dada, punggung, serta kedua lengan, disertai gangguan penglihatan pada mata kanan. Total luka bakar yang dialaminya mencapai 24 persen dari luas permukaan tubuhnya.

Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan editor: Mengapa Air Keras Paling Lazim jadi Alat Teror

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.