
Kementerian Kesehatan memastikan dua kasus suspek terbaru di Jakarta dan Yogyakarta “negatif hantavirus” dan telah dinyatakan sembuh.
Wabah hantavirus menyita perhatian publik, setelah virus ini terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina dan menyebabkan setidaknya tiga orang meninggal.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan pihaknya siap mengantisipasi penyebaran hantavirus varian Andes, yang disebut masih terkonsentrasi di kapal pesiar tersebut.
Budi Gunadi juga menjelaskan, Indonesia memiliki panduan skrining untuk hantavirus, termasuk dalam bentuk rapid test seperti Covid-19 atau reagen yang digunakan di mesin PCR.
Epidemiolog Masdalina Pane menerangkan hantavirus bukanlah penyakit baru di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir, sudah lebih dari 250 kasus suspek hantavirus. Namun, hanya 23 yang dinyatakan positif.
Melacak penumpang MV Hondius
Negara-negara di seluruh dunia berupaya mencegah penyebaran hantavirus, setelah terjadi wabah di sebuah kapal pesiar MV Hondius.
Melansir CNA, negara-negara di seluruh dunia berupaya mencegah penyebaran lebih lanjut hantavirus, dengan melacak para penumpang yang telah turun dari kapal sebelum virus terdeteksi, serta siapa pun yang sempat melakukan kontak dekat dengan mereka setelahnya.
Seluruh penumpang yang turun di St Helena di Samudra Atlantik Selatan, tempat kapal itu singgah pada 24 April, telah dihubungi, kata operator kapal.
Di dalamnya termasuk orang-orang dari setidaknya 12 negara, di antaranya tujuh warga negara Inggris dan enam dari Amerika Serikat.
Dalam perkembangan terbaru, otoritas kesehatan Singapura mengonfirmasi ada dua warganya yang menjadi suspek hantavirus, usai ikut berada di kapal MV Hondius, sejak keberangkatan dari Pelabuhan Ushuaia, Argentina, pada 1 April.

Keduanya, kini tengah menjalani isolasi di National Centre for Infectious Diseases (NCID) untuk memastikan apakah mereka telah terinfeksi. Hingga saat ini, hasil tes masih menunggu proses laboratorium.
Sebelumnya, pada Kamis (07/05), Badan Kesehatan Dunia, WHO, menyatakan lima dari delapan kasus suspek hantavirus telah terkonfirmasi.
Sebanyak tiga orang meninggal, termasuk seorang perempuan Belanda berusia 69 tahun yang terinfeksi virus tersebut, suaminya, yang juga berkebangsaan Belanda, serta seorang perempuan Jerman.
Untuk diketahui, kapal pesiar MV Hondius memulai perjalanannya pada 1 April dari Pelabuhan Ushuaia, Argentina, dan diperkirakan akan tiba di Kepulauan Canary, Spanyol, pada 10 Mei.
Sekitar 150 penumpang dan awak kapal dari 28 negara awalnya berada dalam kapal tersebut.
Adakah kasus hantavirus di Indonesia?
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menyebut saat ini ada dua kasus suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta.
Tapi, hasil pemeriksaan menyatakan keduanya “negatif dan sudah dinyatakan sembuh,” ungkapnya dalam pesan pendek kepada BBC News Indonesia, Jumat (08/05). Ia juga menjelaskan keduanya tidak ada riwayat perjalanan ke luar negeri.

Aji kemudian menjelaskan, di Indonesia, sepanjang tahun 2024 hingga 2026, ada 23 kasus terkonfirmasi positif hantavirus dengan jumlah korban yang meninggal sebanyak tiga orang.
Puluhan kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, yakni Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Rinciannya, Jakarta dan Yogyakarta masing-masing mencatat enam kasus positif, Jawa Barat lima kasus, sementara Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara, NTT, dan Jawa Timur masing-masing satu kasus.
Seberapa berbahaya hantavirus?
Mengutip situs resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia.
Namun, menurut epidemiolog Masdalina Pane, dari puluhan hingga ratusan jenis hantavirus yang ditemukan pada hewan pengerat, tidak semua spesies hantavirus berbahaya bagi manusia.
Saat ini, jenis hantavirus yang paling virulen atau paling berbahaya, banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, termasuk kasus yang ditemukan di Argentina baru-baru ini.

Salah satu jenis hantavirus yang paling virulen adalah varian Andes dengan tingkat kematian yang cukup tinggi, yaitu sekitar 12%–60%. Angka kematian ini bisa berbeda-beda tergantung kondisi pasien, kecepatan penanganan, dan tingkat keparahan infeksi.
“Kalau yang berusia muda akan lebih kuat (menahan laju infeksi), tapi bagi orang yang berusia lanjut jika terinfeksi tingkat kematiannya lebih tinggi,” ujar Masdalina Pane kepada BBC News Indonesia, Jumat (8/05).
“Karena varian Andes ini penularannya dari manusia ke manusia melalui kontak langsung,” sambungnya.
“Sedangkan varian lain belum ditemukan (penularannya) dari manusia ke manusia. Masih dianggap penyakit zoonotik atau dari hewan ke manusia.”
Sementara itu, jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia, serta yang umum di kawasan Asia dan Eropa, kata Masdalina Pane, umumnya bukan termasuk tipe yang paling fatal dibandingkan jenis yang ada di benua Amerika.
Meski demikian, menurutnya, tetap bisa berakibat serius.
Jika berkaca pada kasus suspek di Indonesia, di mana 23 orang terkonfirmasi positif dengan tiga pasien meninggal, itu artinya tingkat fatalitas jenis hantavirus tersebut berada di kisaran 10%–15%.
“Jadi yang ganas tadi, yang menyebabkan kematian, virusnya menyerang jantung, pembuluh darah, serta paru-paru.”
“Sedangkan kalau yang di Asia, Eropa, termasuk Indonesia, menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal.”
Apakah hantavirus varian Andes bisa masuk ke Indonesia?
Masdalina Pane memaparkan hantavirus varian Andes dapat masuk dan menular di Indonesia bergantung pada beberapa faktor.
Salah satunya adalah keberadaan reservoir atau tempat hidup alami virus tersebut. Setiap jenis hantavirus, kata dia, biasanya hanya dapat hidup dan berkembang pada spesies hewan pengerat tertentu.
Dan, jenis hewan pengerat seperti tikus di Indonesia sedikit berbeda dengan yang ada di wilayah asal virus andes di Amerika Utara maupun Argentina, sambungnya.

Tapi, karena varian Andes memiliki karakteristik khusus, yakni dapat menular dari manusia ke manusia, artinya penularan hantavirus varian tersebut tidak selalu membutuhkan perantara tikus.
Itu sebabnya, menurut dia, tetap ada kemungkinan virus ini masuk ke Indonesia melalui mobilitas manusia yang sulit dibatasi.
Misalnya, jika ada orang yang terinfeksi atau memiliki gejala dan membawa virus Andes lalu datang ke Indonesia, maka potensi penularan tetap ada.
Meski begitu, penularan hantavirus varian Andes tidak semudah Covid-19, ungkapnya.
Jika Covid-19 dapat menyebar lewat droplet atau percikan ludah di udara, hantavirus varian andes umumnya membutuhkan kontak langsung untuk menular. Hal ini membuat penyebarannya relatif lebih sulit dan lebih terbatas.
“Kontak langsung itu seperti hubungan seksual, kemudian berciuman atau antara melalui air susu ibu kepada anak. Itu yang kontak langsung dan durasinya (harus) cukup signifikan,” paparnya.
“Jadi, tidak semudah itu (penularannya).”
Masa inkubasi hantavirus varian Andes juga terbilang agak lama, antara 9-40 hari. Itupun tergantung pada daya tahan tubuh seseorang.
“Tapi masa inkubasinya rata-rata muncul di 18 hari sampai tiga minggu.”
Apa yang mesti diperhatikan masyarakat?
Untuk mencegah penyebaran hantavirus, pemerintah dan masyarakat harus sama-sama perlu meningkatkan kewaspadaan.
Bagi masyarakat, langkah paling penting adalah mengurangi risiko kontak dengan tikus, karena hewan inilah yang menjadi pembawa utama virus. Karena itu, kata Masdalina Pane, rumah dan lingkungan sekitar sebaiknya dijaga agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus.
“Sebab, hantavirus dapat menular melalui air liur tikus, urine tikus, atau kotoran tikus yang mencemari lingkungan,” imbuhnya.
Itu mengapa, katanya, penting menjaga kebersihan rumah. Sisa-sisa makanan yang berserak harus segera dibersihkan, juga area yang kemungkinan terkena kencing atau kotoran tikus.

Selain tikus, hewan pengerat lain juga perlu diperhatikan, termasuk hewan peliharaan seperti hamster.
“Kalau misalnya ada peliharaan hewan pengerat harus dijaga kesehatannya supaya tidak menjadi sumber penularan penyakit.”
Masyarakat juga sebaiknya menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terinfeksi penyakit. Kelompok rentan, seperti lansia atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu, sambungnya, perlu mendapat perhatian lebih.
“Kemudian yang lain, kalau kontak dengan orang yang baru pulang dari negara terinfeksi hantavirus, mesti tidak menunjukkan gejala, tetap ada kemungkinan mereka terinfeksi…”
“Karenanya, menjaga jarak dan membatasi kontak sementara waktu bisa jadi langkah pencegahan tambahan.”
Apa yang mesti dilakukan pemerintah?
Epidemiolog Masdalina Pane menilai pemerintah perlu memperkuat sistem surveilans atau pemantauan terhadap hantavirus.
Jika ada orang yang mengalami gejala mengarah ke infeksi hantavirus, maka perlu segera dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah pasien terinfeksi virus tersebut atau tidak.
Pemeriksaan ini menjadi semakin penting terutama bagi orang yang baru datang dari wilayah yang memiliki kasus hantavirus atau endemis. Pasalnya, mereka memiliki risiko paparan yang lebih tinggi.
Seperti apa kesiapan pemerintah?
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengaku sudah koordinasi dengan WHO setelah mengetahui adanya penyebaran hantavirus di kapal pesiar yang tengah berlayar di wilayah Argentina.
Budi menyebutkan, Kemenkes telah meminta pedoman penanganan dan deteksi dini dari WHO, tetapi ia menyebut penyebaran hantavirus saat ini masih terkonsentrasi di kapal pesiar.
“Kami sudah koordinasi dengan WHO. Kami minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi yang hasil masukannya kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu, Jadi belum nyebar ke mana-mana,” ujar Menkes, Kamis (07/05).
Pemerintah, sambungnya, sudah menyiapkan perangkat skrining agar deteksi hantavirus dapat dilakukan lebih cepat. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan rapid test maupun reagen PCR seperti yang digunakan saat pandemi Covid-19.
“Yang kita lakukan adalah agar supaya skriningnya kita punya, apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita Covid dulu atau reagen yang digunakan di PCR,” ujarnya.
Menkes optimistis kapasitas laboratorium di Indonesia saat ini jauh lebih siap dibanding sebelumnya karena infrastruktur pemeriksaan PCR sudah tersebar luas di berbagai daerah.
“Kita butuh kan sekarang mesin reagen kita sudah banyak, jadi untuk deteksi virus ini harusnya lebih mudah,” jelasnya.
- Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukan awal pandemi, kata WHO
- Apa itu galur Andes hantavirus yang mewabah di sebuah kapal pesiar?
- Kesaksian penumpang kapal MV Hondius setelah wabah hantavirus merebak – ‘Kami punya keluarga yang menunggu di rumah’
- Hantavirus kemungkinan menyebar antarpenumpang di kapal pesiar, kata WHO
- PBB peringatkan penyakit yang berpindah dari binatang ke manusia akan terus bertambah
- Antraks merebak di Gunung Kidul, warga diimbau tidak sembelih hewan sakit – ‘Bakteri antraks dapat bertahan puluhan tahun di dalam tanah’










