
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan kenaikan harga ikan hasil budi daya berada di rentang 0,25 hingga 1,39 persen sepanjang Januari-Maret 2026. “Nampaknya kekhawatiran inflasi tidak perlu kita risaukan,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb. Haeru Rahayu dalam konferensi pers secara daring, Kamis, 19 Februari 2026.
Menurut Haeru, rata-rata rentang kenaikan harga ikan tersebut berkaitan dengan jumlah produksi perikanan yang meningkat. Dengan pertumbuhan inflasi itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan tidak ada indikasi lonjakan harga ekstrem menjelang Ramadan.
Pada periode yang sama, data Kementerian Kelautan dan Perikanan mengungkapkan mayoritas produksi ikan hasil budi daya sepanjang Januari hingga Maret tahun ini meningkat kecuali ikan mas.
Haeru mengatakan produksi ikan mas mengalami penurunan sebesar 4,11 persen. Berdasarkan rinciannya, produksi ikan mas pada Januari 2026 diperkirakan sebanyak 70.844 ton. Angkanya diprediksi terus menciut menjadi 65.130 ton pada Maret 2026.
Sejumlah komoditas yang mengalami peningkatan produksi yang menjadi sorotan Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah ikan nila, ikan kerapu, ikan lele, dan udang. Secara garis besar, total peningkatan pertumbuhan produksi mencapai 19,09 persen sepanjang Januari-Maret 2026.
Kerapu misalnya, yang mengalami rata-rata peningkatan produksi sebesar 11,32 persen sepanjang Januari-Maret 2026. Produksi kerapu diperkirakan mencapai 2.056 ton pada Maret 2026.
Secara kuantitas, jumlah produksi terbesar perikanan budi daya adalah ikan nila. Produksi nila pada Januari 2026 mencapai 142.264 ton. Kemudian meningkat menjadi 169.673 ton sebulan setelahnya dan peningkatan diperkirakan terjadi pada Maret 2026 sebanyak 171.748 ton.
Dengan jumlah produksi tersebut, Haeru optimistis kebutuhan masyarakat terhadap produk perikanan selama Ramadan hingga Lebaran dapat terpenuhi.
Pilihan Editor: Mengapa Diskon Pajak Tak Menurunkan Harga Tiket Pesawat










