Dilansir dari KalselBabusalam.com, Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyampaikan sejumlah rencana dan usulan strategis untuk mencapai kemandirian energi Indonesia di hadapan sidang paripurna DPR. Namun, visi ini segera menuai sorotan tajam dari Institute for Essential Services Reform (IESR), yang mengidentifikasi beberapa potensi masalah mendalam dalam proposal tersebut.
Dalam pidatonya di Gedung DPR Jakarta, Rabu (20/5), Presiden Prabowo menjelaskan fokus pemerintah pada percepatan produksi biodiesel dari minyak kelapa sawit dan pengkajian bensin dari komoditas yang sama. Langkah ini merupakan respons terhadap gejolak krisis energi global, khususnya di Timur Tengah. Lebih lanjut, ia juga mengemukakan rencana untuk memproduksi solar dan gas melalui gasifikasi batu bara, serta memanfaatkan limbah dan batang jagung sebagai sumber energi masak yang ekonomis.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menegaskan bahwa rencana dan usulan Presiden Prabowo membawa risiko signifikan terhadap anggaran negara dan ketahanan pangan. Melalui keterangan tertulisnya, Rabu (20/5), Deon menyatakan, “Usulan Presiden berpotensi menambah biaya energi dan belum tentu menyelesaikan akar persoalan apabila krisis energi serupa saat ini terjadi lagi di masa depan.”
Deon Arinaldo memahami bahwa maksud utama pemerintah adalah melakukan diversifikasi sumber energi. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada komoditas energi fosil yang sangat rentan terhadap fluktuasi pasar global. Kendati demikian, IESR menyoroti bahwa alternatif yang diusulkan seperti sawit, justru cenderung lebih mahal dibandingkan energi fosil. Selain itu, sawit dan batu bara, sama halnya dengan bahan bakar minyak, juga merupakan komoditas yang peka terhadap gejolak pasar global, sehingga berpotensi membebani anggaran negara.
Tidak hanya itu, usulan pemanfaatan limbah pertanian untuk bahan bakar juga dinilai berisiko menciptakan benturan antara target kemandirian energi dan swasembada pangan. Deon Arinaldo menjelaskan lebih lanjut, “Peningkatan permintaan terhadap kelapa sawit dan limbah jagung untuk kebutuhan energi dapat mengancam ketersediaannya bagi produksi minyak goreng dan pakan ternak, yang merupakan kebutuhan penting bagi petani dan masyarakat secara umum.”
Melihat celah-celah tersebut, IESR memberikan rekomendasi yang jelas. Deon mendorong pemerintah untuk lebih fokus pada upaya sistematis dalam meningkatkan bauran energi terbarukan. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga diharapkan untuk secara aktif mempromosikan efisiensi energi melalui elektrifikasi, baik pada sektor transportasi maupun untuk memenuhi kebutuhan industri dan rumah tangga. Langkah-langkah ini diyakini akan lebih kokoh dalam membangun fondasi kemandirian energi yang berkelanjutan dan minim risiko.









