KalselBabusalam.com, KalselBabusalam.com – Serangan udara Israel kembali menuai duka mendalam di Jalur Gaza. Kali ini, Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, menjadi saksi bisu gugurnya Maryam Abu Daqqa, seorang jurnalis foto berdedikasi tinggi untuk Independent Arabia. Maryam, yang tengah mendokumentasikan gempuran Israel dari gedung darurat rumah sakit, tewas dalam insiden tragis yang juga merenggut nyawa empat jurnalis lainnya. Dua serangan mematikan menghantam lantai empat dan lantai atas bangunan tersebut, yang ironisnya menjadi tempat berlindung bagi para jurnalis, pasien, dan petugas pemadam kebakaran.
Tragedi ini menambah panjang daftar kelam korban di kalangan awak media. Menurut data dari Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), jumlah jurnalis yang tewas selama konflik di Gaza sejak Oktober 2023 telah mencapai angka yang mendekati 200 orang. Sebuah statistik yang mengerikan, menandai periode ini sebagai konflik paling mematikan bagi profesi jurnalis dalam sejarah modern. Setiap nama yang gugur adalah pengingat pahit akan bahaya tak terhingga yang dihadapi para peliput berita di garis depan.
Maryam Abu Daqqa, yang bergabung dengan Independent Arabia pada tahun 2020, adalah simbol nyata dari dedikasi jurnalistik. Sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, ia tak pernah absen satu hari pun dalam meliput operasi militer Israel di Gaza. Setiap pagi, dengan mengenakan pelindung tubuh dan melambaikan tangan kepada putra tunggalnya, Ghaith, ia berangkat menuju medan liputan. Meski Ghaith kemudian pindah ke Uni Emirat Arab demi keamanan, Maryam memilih untuk tetap bertahan di Gaza, teguh pada komitmennya untuk menghadirkan kebenaran kepada dunia.
Perang telah merenggut banyak hal dari Maryam, termasuk rumah dan peralatan kerjanya. Namun, hal itu tidak pernah memadamkan semangatnya. Ia terus mendokumentasikan dengan gigih, mengabadikan setiap sudut penderitaan dan ketahanan: mulai dari kisah pengungsian massal, kelaparan yang melanda, cerita-cerita kemanusiaan yang mengharukan, hingga kengerian pemboman udara dan serangan darat tentara Israel. Tahseen Al Astal, Wakil Ketua Serikat Jurnalis Palestina, mengenang Maryam dengan penuh hormat. “Energinya tak tertandingi dalam liputan media. Ia selalu hadir di setiap sudut dan setiap peristiwa,” ujarnya, menggambarkan intensitas dan kehadirannya yang tak tergantikan.
Kepergian Maryam merupakan pukulan berat bagi komunitas jurnalis Gaza. Tahseen Al Astal menambahkan, “Ia sangat dicintai rekan-rekannya. Semua mengakui bakat dan kegigihannya meski di bawah tekanan. Ia adalah panutan.” Ungkapan ini, sebagaimana diberitakan The Independent pada Selasa (26/8/2025), menegaskan betapa besar pengaruh Maryam di kalangan kolega, yang selalu terinspirasi oleh profesionalisme dan keberaniannya.
Di tengah tugas beratnya, Maryam juga harus menghadapi cobaan pribadi yang menusuk jiwa. Ibunya jatuh sakit parah dan meninggal dunia di rumah sakit tanpa mendapatkan perawatan memadai, sebuah kehilangan yang sangat memukulnya. Ia bahkan pernah dipaksa memotret jasad rekan-rekan jurnalisnya sendiri yang gugur dalam tugas. “Setiap kali saya memotret mereka, saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya akan bernasib sama, ataukah saya selamat dari pembantaian ini?” demikian kenangannya yang menghantui, mencerminkan pergolakan batin dan risiko yang selalu mengintai.
Kesedihan mendalam juga dirasakan oleh keluarganya. Sadik, kakak Maryam, menggambarkannya sebagai sosok yang “lembut, peka, selalu membantu tanpa mengharap balasan.” Tangis pilu tak terbendung dari ayahnya, Riad Abu Daqqa, saat memeluk jenazah putrinya. “Saya kehilangan putri yang paling berharga. Hidup saya terikat padanya. Ini kehilangan besar bagi kami dan bagi para jurnalis. Maryam adalah teladan kemanusiaan yang mulia,” ucapnya, merangkum luka hati seorang ayah yang kehilangan belahan jiwanya.
Dalam keheningan yang menyayat hati, para jurnalis di Gaza mengiringi jenazah Maryam ke tempat peristirahatan terakhirnya. Hanya air mata yang berbicara, mengiringi kepergian seorang pahlawan kebenaran. Independent Arabia, Persatuan Jurnalis Palestina, dan seluruh komunitas media mengenang Maryam sebagai sosok dengan kreativitas, dedikasi, dan kepekaan luar biasa. Sebuah pernyataan bersama dari jurnalis Palestina menegaskan tekad mereka: “Saat kami mengucapkan selamat tinggal, kami menegaskan tekad untuk melanjutkan misi jurnalistik dengan independensi, imparsialitas, profesionalisme, dan keterampilan, sebagaimana yang dilakukan Maryam Abu Daqqa.” Warisannya akan terus hidup, menginspirasi generasi jurnalis untuk tidak pernah menyerah dalam pencarian kebenaran.










