KalselBabusalam.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 berhasil menutup pekan perdagangan hari ini, Jumat (10/4/2026), di zona hijau, didorong oleh penguatan signifikan pada saham-saham konstituen berkapitalisasi besar atau big caps. Saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi motor penggerak utama yang memimpin laju positif indeks.

Berdasarkan data dari IDX Mobile, Indeks Bisnis-27, yang merupakan hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia, mengakhiri perdagangan dengan kenaikan impresif sebesar 1,91%, mencapai level 497,40. Sepanjang sesi perdagangan, indeks ini menunjukkan pergerakan yang cukup fluktuatif, berkisar antara 490,03 hingga puncaknya di 498,73. Sebanyak 20 saham konstituen berhasil melaju, sementara sisanya, 7 saham, tercatat melemah.

: Saham BBNI hingga BRPT Bawa Indeks Bisnis-27 Dibuka Menguat

Penguatan Indeks Bisnis-27 ini utamanya didorong oleh performa cemerlang saham-saham unggulan berkapitalisasi pasar besar. Saham UNTR memimpin dengan penguatan 4,25% ke level Rp31.300. Diikuti oleh saham BBCA yang naik 3,47% ke level Rp6.700. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga turut mencatatkan kenaikan sebesar 3,35% menjadi Rp3.390.

Tidak hanya itu, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga melonjak 3,23% ke level Rp1.915, dan saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) menguat 2,19% menjadi Rp4.670, semakin memperkuat momentum positif indeks.

: Indeks Bisnis-27 Ditutup Lesu, Saham BRPT, TLKM, hingga DSNG Justru Melaju

Namun, beberapa saham dengan bobot besar menjadi faktor pemberat yang menahan laju indeks. Di antaranya adalah saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) yang turun 2,06% ke level Rp1.900. Disusul oleh saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang melemah 1,07% ke level Rp3.710, serta saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang terkoreksi 0,79% menjadi Rp1.255.

: Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah, Saham BRPT, MAPI, hingga UNTR Ambrol

Tim riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa pasar keuangan global memperlihatkan perbaikan sentimen setelah ketegangan geopolitik mulai mereda. Perkembangan ini dinilai mampu meredakan salah satu area konflik yang memanas, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, upaya gencatan senjata sempat terancam goyah akibat serangan Israel ke Lebanon. Presiden Donald Trump juga telah menegaskan bahwa pasukan AS akan tetap berada di kawasan Teluk hingga kesepakatan damai benar-benar tercapai dan dipatuhi.

Di tengah meredanya tensi geopolitik, fokus investor pun kembali beralih pada data ekonomi dan perkembangan teknologi, terutama fenomena disrupsi kecerdasan buatan (AI). Salah satu indikator utama yang menarik perhatian adalah inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures Price Index (PCE) yang dirilis, tercatat naik 0,4% secara bulanan (MoM) pada Februari 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Secara tahunan (YoY), inflasi PCE mencapai 3%, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya di level 3,1%. Meskipun demikian, angka tersebut masih berada di atas target inflasi Federal Reserve System sebesar 2% dan belum sepenuhnya mencerminkan dampak kenaikan harga energi akibat konflik yang mulai memanas sejak Maret 2026.

Dari sisi fundamental, Bank Dunia (World Bank) telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada tahun 2026, lebih rendah dari estimasi sebelumnya 4,8%, dan berada di bawah target pemerintah sebesar 5,4% dalam APBN. Penurunan proyeksi ini dipicu oleh dampak eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi global. Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik (di luar China) juga diperkirakan akan melambat menjadi 4,1%.

Menilik sektor riil, penjualan sepeda motor domestik mencatatkan kontraksi signifikan sebesar 17,1% secara tahunan pada Maret 2026, berbalik arah dari pertumbuhan 1% yang terjadi pada Februari. Bahkan, secara bulanan, penjualan mengalami penurunan tajam 23,6%, diduga akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. Meskipun demikian, secara kumulatif untuk kuartal I/2026, penjualan masih berhasil mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 4,1%.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.