
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan harga bahan bakar minyak atau BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Dia memperhitungkan dengan pengalihan anggaran dari berbagai kementerian dan lembaga di pemerintahan dengan perkiraan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekitar 2,9 persen seperti tahun 2025.
“Selama suplainya (minyak) ada, kita masih punya bantalan uang sebesar Rp 490 triliun yang sekarang dalam bentuk sisa anggaran lebih, kalau kepepet masih bisa dipakai,” ujarnya saat konferensi pers di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin, 6 April 2026.
Dengan pengalihan pos anggaran, dia juga memperhitungkan anggaran negara masih sanggup memberi subsidi dengan asumsi rata-rata harga minyak mentah sekitar US$ 100 per barel sampai akhir tahun. Tetapi dia memperkirakan harga minyak mentah tidak akan bertahan lama di atas US$ 100 jika melihat perkembangan perpolitikan di Amerika Serikat.
Masyarakat diminta tidak perlu khawatir dengan beban subsidi tersebut. “Tidak usah spekulasi bahwa saya kehabisan uang, gini-gini uangnya banyak. Jadi uang kita cukup,” ujarnya sambil berkelakar.
Sebelumnya, konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari 2026. Harga minyak mentah melonjak di atas US$ 100 per barel dan melebihi asumsi Indonesia Crude Price US$ 70 per barel menurut APBN 2026. Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran strategis perdagangan minyak dan gas di dunia.
Meski tidak menaikkan BBM subsidi pada Pertalite dan Solar, muncul wacana pembatasan untuk membeli produk itu. Bagi pengguna kendaraan pribadi roda empat, pembelian BBM dibatasi maksimal 50 liter per hari.
Pilihan Editor: Bisakah Purbaya Menahan Defisit Akibat Gejolak Harga Minyak










