Gejolak harga minyak dunia kini mulai menunjukkan sinyal koreksi setelah sempat melonjak tajam akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Pada perdagangan terkini, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat mengalami penurunan menjadi US$104,23 per barel, atau melemah signifikan sebesar 1,98 persen dibandingkan posisi sebelumnya, memberikan sedikit kelegaan bagi pasar global.

Pelemahan harga ini utamanya dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar, menyusul keberhasilan Amerika Serikat dalam menggagalkan serangan Iran serta langkah pengawalan terhadap dua kapal berbendera Amerika yang melintasi Selat Hormuz. Aksi sigap ini berhasil meredakan sebagian ketegangan yang sempat mencengkeram jalur pelayaran vital tersebut.

Dilansir dari Trading Economics, Pemerintah AS juga menegaskan komitmennya untuk “melindungi semua kapal komersial” dari ancaman drone dan kapal kecil yang dilaporkan dikerahkan oleh Teheran. Pernyataan ini memberikan jaminan keamanan tambahan bagi kegiatan perdagangan maritim di wilayah strategis tersebut.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan keberhasilannya mencegat rudal Iran, sekaligus mengonfirmasi adanya insiden kebakaran di terminal minyak Fujairah. Terminal ini merupakan salah satu infrastruktur krusial dalam rantai distribusi energi global, sehingga insiden tersebut menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar.

Perkembangan tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Trading Economics, terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump menguraikan rencananya untuk memulihkan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Rencana ini juga mencakup pemberian perlindungan penuh bagi kapal-kapal yang sempat terjebak, meskipun pemilik kapal tetap menunjukkan kewaspadaan tinggi mengingat tingginya risiko keamanan yang masih ada.

Meski demikian, ketegangan di Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda. Pasar masih menilai bahwa jalur pelayaran krusial ini berpotensi tetap terganggu hingga tercapai kesepakatan komprehensif antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk tetap berhati-hati terhadap kemungkinan lonjakan harga energi di masa mendatang. Kewaspadaan pasar terhadap gejolak harga energi ini tak hanya terbatas pada level global, namun juga menjadi perhatian bagi media regional seperti KalselBabusalam.com dalam mengulas dampak ekonomi dari ketegangan internasional.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2022. Kontrak berjangka minyak Brent crude oil bahkan sempat menembus angka US$120,94 per barel pada 30 April 2026, sebelum akhirnya kembali turun ke kisaran US$113 per barel pada penutupan perdagangan di hari yang sama. Fluktuasi tajam ini menunjukkan sensitivitas pasar terhadap dinamika geopolitik.

Dari sisi fundamental, tekanan harga juga dipengaruhi oleh penurunan tajam stok minyak di AS, yang dibarengi dengan lonjakan ekspor yang menembus lebih dari 6 juta barel per hari. Kondisi ini secara jelas mencerminkan pasokan global yang semakin ketat di tengah gangguan distribusi energi, menambah kompleksitas dalam penentuan harga.

Di dalam negeri, dinamika harga global turut tercermin pada kenaikan Indonesian Crude Price (ICP). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat ICP Maret 2026 mencapai US$102,26 per barel. Angka ini menjadikannya level tertinggi dalam setahun terakhir dan jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel, menandakan tekanan inflasi yang lebih besar.

Pilihan Editor: Harga Barang Mulai Naik Imbas Penutupan Selat Hormuz

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.