JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan konsistensi dengan mayoritas mata uang negara berkembang lainnya, meskipun tensi konflik di Timur Tengah terus membayangi. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, yang turut menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar dengan memastikan mekanisme pasar berjalan optimal.
Pada Selasa pagi, 5 Mei 2026, rupiah tercatat melemah tipis terhadap dolar AS. Penurunan sebesar 11 poin atau 0,07 persen ini membawa nilai tukar rupiah ke level Rp 17.405 per dolar AS, sedikit bergeser dari penutupan sehari sebelumnya di Rp 17.394 per dolar AS. Fluktuasi ini menjadi bagian dari dinamika pasar yang lebih luas.
Lebih lanjut, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang pasar emerging market bukanlah fenomena tunggal yang dialami rupiah. Sebagai contoh, Peso Filipina mengalami pelemahan signifikan sebesar 6,58 persen, diikuti oleh Baht Thailand yang turun 5,04 persen, dan Rupee India melemah 4,32 persen. Senada, Peso Cile juga terdepresiasi 4,24 persen, dengan rupiah melemah 3,65 persen, dan Won Korea minus 2,29 persen. Data ini menggarisbawahi posisi rupiah yang sejalan dengan tren global.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar valuta asing. Langkah-langkah strategis ini mencakup transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik. Seluruh upaya ini dilakukan secara konsisten dan terukur untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain intervensi langsung di pasar valuta asing, bank sentral juga aktif melakukan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Kebijakan ini merupakan bagian integral dari strategi komprehensif BI untuk menjaga kepercayaan investor dan meredam gejolak di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengidentifikasi eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai pemicu utama pelemahan rupiah. “Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ungkap Lukman, sebagaimana dilansir dari Antara. Menurutnya, memanasnya geopolitik di kawasan tersebut menjadi faktor eksternal dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Lukman memperkirakan bahwa pergerakan kurs rupiah akan cenderung terbatas dalam rentang Rp 17.350 hingga Rp 17.450 per dolar AS. Prediksi ini mencerminkan kewaspadaan terhadap perkembangan geopolitik dan dinamika pasar keuangan global yang terus berubah.
Pilihan Editor: BI Izinkan Penjualan NDF di Luar Negeri. Rupiah Akan Stabil?












