Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang Jepang dan memicu peringatan tsunami. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) RI memastikan potensi tsunami itu tidak berdampak di wilayah Indonesia.

Gempa tektonik tersebut terjadi pada Senin, 20 April 2026, pukul 14.52.57 WIB di pesisir timur Honshu atau 100 km timur laut dari Miyako.

BMKG dalam pernyataan tertulis menjelaskan, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng Pasifik dan Lempeng Okhotsk. Gempa bumi ini memiliki mekanisme naik.

“Hasil analisis BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia,” kata BMKG, Senin (20/4).

Akibat gempa tersebut, Japan Meteorological Agency (JMA) mengeluarkan peringatan dini tsunami lokal untuk bagian tengah pantai Pasifik Hokkaido, pantai Pasifik Prefektur Aomori, serta Prefektur Iwate dengan status AWAS.

Wilayah bagian timur dan barat pantai Pasifik Hokkaido, pantai Laut Jepang di Prefektur Aomori, serta Prefektur Miyagi dan Prefektur Fukushima dengan status SIAGA.

“Hasil pemantauan sementara BMKG melalui sensor muka air laut, tsunami terdeteksi setinggi 60 cm di Miyako pada pukul 15.30 WIB,” jelas BMKG.

BMKG mengimbau masyarakat pesisir di wilayah Indonesia tetap tenang, BMKG akan terus memonitor perkembangan dampak gempa bumi ini dan segera menginformasikan kepada khalayak.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.