KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terus dibayangi oleh awan ketidakpastian. Sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait konsentrasi kepemilikan saham menjadi faktor utama yang memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Pada penutupan perdagangan terakhir, kedua saham ini menunjukkan pelemahan signifikan. Saham BREN tercatat anjlok 9,62% dan parkir di level Rp5.400 per saham, sementara DSSA mengalami penurunan yang lebih dalam, melemah 9,71% menjadi Rp2.510 per saham. Penurunan ini mengindikasikan respons pasar terhadap isu yang sedang bergulir.
Abida Massi Armand, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, menjelaskan bahwa MSCI memang masih mempertahankan kebijakan freeze pada tinjauan Mei 2026. Ini berarti, untuk saat ini, kedua saham BREN dan DSSA belum dikeluarkan dari indeks bergengsi tersebut. Namun, Abida mengingatkan, isu high shareholding concentration (HSC) masih belum tuntas. “Masalah HSC akan terus menjadi overhang yang membayangi kedua saham ini selama free float belum diperbaiki,” ujar Abida, dilansir dari Kontan, Rabu (22/4/2026).
Meskipun demikian, secara fundamental bisnis, Abida menilai bahwa BREN dan DSSA sejatinya masih cukup solid. Kinerja inti perusahaan tetap stabil. Namun, prospek jangka pendek pergerakan saham BREN dan DSSA masih akan dipenuhi dengan volatilitas dan ketidakpastian, terutama di tengah sentimen pasar yang sensitif terhadap isu konsentrasi kepemilikan.
Abida menggarisbawahi bahwa risiko utama yang perlu diperhatikan serius oleh investor berasal dari struktur kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi. Dia merinci, “Konsentrasi kepemilikan BREN mencapai 97,31% dan DSSA 95,76%.” Tingginya konsentrasi ini menyebabkan free float yang sangat terbatas, yang pada gilirannya membuat likuiditas perdagangan saham keduanya rentan terhadap gejolak dan volatilitas tinggi.
Selain struktur kepemilikan, potensi keputusan MSCI pada review berikutnya juga menjadi faktor risiko krusial. Terutama jika isu HSC tidak segera diselesaikan melalui aksi korporasi yang konkret dari pihak manajemen. “Selama belum ada kepastian mengenai perbaikan free float, potensi outflow pasif masih akan terus membayangi kedua saham ini, yang bisa berdampak pada tekanan harga,” imbuhnya.
Mencermati berbagai risiko tersebut, Abida Massi Armand menyarankan agar para investor untuk bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan. “Kami merekomendasikan wait and see untuk saat ini,” katanya. Investor sebaiknya menunggu kejelasan mengenai aksi korporasi dari pemegang saham pengendali untuk meningkatkan free float sebelum memutuskan untuk mengambil posisi di saham BREN maupun saham DSSA. Masuk terlalu dini ke dalam saham-saham ini berisiko tinggi menghadapi volatilitas ekstrem di tengah ketidakpastian yang masih terus berlanjut.











