Investor asing melakukan jual bersih atau net sell sebesar Rp 807 miliar di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan pekan ini. IHSG turun 8% sepanjang pekan ini dan ditutup di level 6.162. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks bahkan sempat turun hingga di bawah level 6.000 pada Jumat (22/5). Namun, IHSG pada akhirnya berhasih menguat pada penutupan perdagangan kemarin sebesar 1,1% dibandingkan hari sebelumnya. 

Data BEI menunjukkan volume dan nilai perdagangan saham meningkat di tengah rontoknya pasar saham. Volume perdagangan naik 2,53% menjadi 36,67 miliar, sedangkan nilainya naik 15,7% menjadi Rp 21,77 triliun. 

Investor domestik masih mendominasi transaksi saham pada pekan ini. Namun, porsi investor asing dari keseluruhan transaksi naik dari pekan lalu sebesar 33% menjadi 41%. 

Investor asing tercatat melakukan transakso jual beli mencapai Rp 44,72 triliun dan transaksi jual Rp 45,33 triliun. 

Adapun berdasarkan data Stockbit, investor asing terpantau masih melepas saham bank besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masing-masing Rp 1,02 triliun dan  Rp 407,37 miliar. 

Di sisi lain, investor asing terpantau mengakumulasi saham sejumlah perusahaan tambang, seperti PT Timah Tbk (TINS) mencapai Rp 792,31 miliar dan PT Merdeka Copper Gold Tbk mencapai Rp 688,44 miliar.

Penyebab IHSG Anjlok 8%

Pasar saham Indonesia babak belur pekan ini seiring pengumuman review kuartalan FTSE Global Equity Index Series yang dijadwalkan pada Jumat (22/5) pukul 06.00 PM waktu Amerika Serikat. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat anjlok hingga 30% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Padahal, indeks sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di level 9.134 pada 20 Januari 2026 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.590 triliun, namun saat ini kapitalisasi pasar Bursa juga menyusut menjadi Rp 10.635. 

FTSE sebelumnya sudah memberi sinyal akan mendepak saham-saham Indonesia yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. HSC adalah daftar emiten di BEI yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada segelintir pihak atau kelompok afiliasi tertentu.

Data itu dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.