





KalselBabusalam.com – Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung sebagai relawan dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dan sempat ditahan oleh militer Israel, kini telah dibebaskan. Mereka saat ini sedang dalam proses pemulangan menuju Tanah Air, membawa secercah harapan bagi keluarga dan seluruh bangsa. Kabar gembira mengenai pembebasan kesembilan WNI ini sebelumnya telah dikonfirmasi oleh lembaga bantuan hukum Palestina, Adalah, memicu kelegaan yang meluas.
Menteri Luar Negeri Sugiono, dalam keterangannya pada Kamis (21/5), mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas pembebasan ini. “Pemerintah Indonesia dengan penuh rasa syukur menyampaikan bahwa sembilan warga negara Indonesia yang ditangkap oleh militer Israel dalam pencegatan kapal dan penangkapan relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0, saat ini dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki, dan akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke Tanah Air,” jelas Menlu Sugiono. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Turki atas dukungan penuh dan peran aktif mereka dalam memfasilitasi proses pemulangan para WNI tersebut.
Saat ini, kesembilan WNI tersebut telah tiba dengan selamat di Turki, menunggu proses selanjutnya untuk kembali ke Indonesia. Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Henny Hamidah, pada Kamis (21/5), menegaskan bahwa proses kepulangan akan segera dilakukan setelah semua prosedur di Istanbul rampung. Di tengah penantian ini, kabar pembebasan tersebut disambut dengan suka cita oleh keluarga. Salah satunya adalah Sutrawati Kaharuddin (52), ibunda dari aktivis Andi Angga Prasadewa, yang mengaku telah menerima informasi pembebasan putranya dari pihak GSF dan lembaga tempat Angga bekerja, Rumah Zakat. “Alhamdulillah, saya sudah mendapat kabar sejak kemarin. Anak saya sudah kembali, sudah dideportasi ke Turki, dan saat ini sudah berada di Turki,” ujar Sutrawati, dilansir dari Kumparan, pada Jumat (22/5) malam. Angga bahkan sempat melakukan panggilan video singkat dengan keluarganya usai pembebasan, mengobati kerinduan yang mendalam.
Dalam percakapan singkat dengan sang ibunda, Angga mengungkapkan pengalaman pahitnya selama dalam tahanan di Israel. Ia bercerita sempat mengalami intimidasi dan kekerasan fisik. “Menurut penyampaian anak saya tadi, katanya memang di sana dia mengalami intimidasi dan tentunya ada kekerasan fisik. Ada sedikit memar di tubuhnya,” ungkap Sutrawati dengan nada khawatir namun lega. Beruntungnya, kondisi Angga kini dilaporkan stabil dan sehat setelah menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh di Turki. Sutrawati menambahkan bahwa ia sempat berkomunikasi dua kali dengan putranya, masing-masing selama tiga menit saat Angga baru tiba dari pesawat, dan sepuluh menit pada pagi harinya. “Anak saya sehat secara keseluruhan. Walaupun ada sedikit mengalami memar di tubuhnya, tapi alhamdulillah baik-baik saja,” tambahnya, menunjukkan ketegaran.
Keluarga Angga Prasadewa tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu membantu proses pembebasan anaknya. “Saya pribadi berterima kasih sekali karena negara betul-betul serius mengurus pembebasan anak kami dan WNI lainnya. Terima kasih kepada Pak Presiden Prabowo dan Menteri Luar Negeri, insan pers, dan semua yang telah berkontribusi dalam proses pembebasan ini,” ujar ayah Angga, Andi Hamza, penuh rasa haru.
Alami Siksaan
Kesaksian mengerikan mengenai penyiksaan yang dialami para relawan juga terekam jelas. Maimon Herawati, salah satu Komite Pengarah GSF dan Ketua Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), berhasil merekam kondisi memprihatinkan para WNI usai dibebaskan dari tahanan Israel. Beberapa di antara mereka berbagi cerita pilu tentang kekerasan yang dialami. “Hendro diapain?” tanya Maimon dalam rekaman video yang diterima pada Jumat (22/5). Seorang WNI bernama Hendro menjawab dengan nada tertahan, “Saya ditonjok, disetrum dua kali, ditendang dua kali, di bahu sekali, lengkap.” Maimon kemudian bertanya lagi, “Kalau Asad?” Pria dalam video itu menjawab singkat, “Ditonjok, diinjak.”
Maimon Herawati lebih lanjut menjelaskan bahwa beragam bentuk penyiksaan telah dilakukan, bahkan yang diceritakan bisa jadi merupakan “situasi yang ringan.” “Karena di antara relawan, ada yang dibawa dengan stretcher, ada yang harus mendapat operasi, ada yang patah kaki dan tangan, dan saya dengar juga ada kasus-kasus yang lebih buruk lagi,” ungkap Maimon, menggarisbawahi betapa parahnya situasi tersebut. Kekerasan yang menimpa para relawan ini juga dikonfirmasi oleh Konsul Jenderal RI Istanbul, Darianto Harsono, yang mendampingi para WNI selama berada di Istanbul. “Kami Konjen Republik Indonesia di Istanbul, alhamdulilah kami bersama 9 saudara kita yang tergabung dalam misi GSF telah bersama kami dalam kondisi sehat walafiat. Walaupun mereka ada yang mengalami kekerasan fisik, ditendang, dipukul disetrum,” kata Darianto Harsono, melalui unggahan resmi Menlu RI Sugiono di akun Instagram pribadinya, Jumat (22/5).
Menlu Sugiono Kecam Penyiksaan
Menteri Luar Negeri Sugiono, merespons laporan ini, mengecam keras tindakan penyiksaan yang dilakukan militer Israel terhadap sembilan WNI aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. Dalam keterangan resmi yang diunggah melalui akun Instagram resminya pada Jumat (22/5) pagi, Sugiono menegaskan, “Indonesia mengecam keras tindakan penyiksaan yang dilakukan Israel terhadap WNI selama masa penahanan.”
Ia melanjutkan dengan penekanan kuat, “Indonesia kembali menegaskan bahwa segala bentuk tindakan tidak manusiawi terhadap relawan Global Sumud Flotilla oleh militer Israel merupakan pelanggaran hukum internasional dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.” Menlu Sugiono juga menambahkan bahwa setelah keluar dari Israel, kesembilan WNI tersebut telah tiba dengan selamat di Turki pada Kamis (21/5) dan kini sedang menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari persiapan pemulangan mereka. “Pemerintah Indonesia saat ini terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan proses pemulangan seluruh WNI ke tanah air berjalan lancar sehingga mereka dapat kembali dengan selamat dan sesegera mungkin,” pungkas Sugiono, menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam melindungi warganya.




