Dilansir dari KalselBabusalam.com, menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, dinamika penjualan pakaian Lebaran di pusat perbelanjaan terbesar Jakarta menunjukkan gambaran yang kontras. Empat hari sebelum momentum puncak Idulfitri, para pedagang pakaian di Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta, menyuarakan kekhawatiran terkait penurunan omzet yang signifikan. Fenomena ini mengejutkan, mengingat periode Ramadan biasanya menjadi saat paling menguntungkan bagi para pedagang untuk meraih pendapatan.

Salah satu pedagang, Isa, mengeluhkan penurunan drastis dalam penjualannya. “Kalau untuk tahun ini malah menurun, lebih baik tahun kemarin. Turunnya mungkin bisa 30 persen,” ujarnya kepada Tempo, Selasa, 17 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa kondisi saat ini terasa jauh lebih sepi, dengan penurunan hingga 50 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Isa menjelaskan bahwa pada tahun lalu, produk seperti tunik dan semi-tunik, termasuk untuk kebutuhan seragam, masih diminati tinggi. Namun, kini permintaan terhadap jenis busana muslim tersebut cenderung berkurang, turut menyumbang pada estimasi penurunan penjualan sekitar 30 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.Bagaimana minat belanja di Tanah Abang jelang Lebaran 2026

Meskipun harga produk yang ditawarkan stabil di kisaran Rp 95.000 hingga Rp 100.000 per potong, stabilitas ini tak mampu mendongkrak daya beli konsumen. Penurunan penjualan tersebut juga berdampak langsung pada omzet yang diperoleh Isa. Ia merasakan perbedaan omzet yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu, dengan kondisi saat ini yang jauh lebih lengang. Biasanya, dalam kondisi normal, omzet bulanan bisa mencapai Rp 10 juta. Menariknya, sekitar 80 persen pembeli Isa adalah pelanggan tetap, namun tahun ini, jumlah pembelian dari pelanggan setia tersebut pun mengalami penurunan. Sistem penjualan yang dilakukan masih didominasi secara offline, meskipun ada tambahan pesanan melalui aplikasi pesan singkat.

Berbeda nasib dengan Isa, pedagang lainnya, Echa, justru merasakan peningkatan penjualan Lebaran yang menggembirakan. “Kalau dibanding tahun lalu, tahun ini Alhamdulillah ada penaikan, mungkin sekitar 70 persen-an lah,” ungkap Echa kepada Tempo. Tokonya melayani pembelian secara grosir maupun eceran. Untuk pembelian grosir, konsumen umumnya diwajibkan membeli satu seri, baik berdasarkan ukuran maupun warna, yang dalam satu seri bisa terdiri dari tiga ukuran atau hingga lima variasi warna.

Dari segi harga, Echa menjelaskan bahwa pembelian dalam jumlah seri jauh lebih murah dibandingkan pembelian satuan. Produk satuan dibanderol antara Rp 130.000 hingga Rp 150.000 per potong, sementara harga grosir atau seri berada di kisaran Rp 120.000. Toko Echa didominasi oleh penjualan busana muslim pria, seperti baju koko. Peningkatan penjualan ini turut mendongkrak omzet hariannya, yang saat ini dapat mencapai sekitar Rp 50 juta per hari. Echa menambahkan, sebagian besar pembelinya merupakan pelanggan yang kembali berbelanja, dengan komposisi pelanggan lama dan baru yang dinamis. Mayoritas pembeli Echa membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali, bukan untuk konsumsi pribadi.

Pengamatan Tempo di lokasi menunjukkan suasana Pasar Tanah Abang yang relatif sepi meskipun waktu masih menunjukkan sekitar pukul 15.00. Sejumlah kios terlihat minim pengunjung, bahkan beberapa pedagang sudah mulai merapikan dagangan untuk menutup lapaknya lebih awal. Mayoritas pengunjung yang datang tampak hanya melihat-lihat tanpa melakukan pembelian, dengan dominasi ibu-ibu yang datang bersama anak-anak. Perhatian mereka lebih banyak tertuju pada kios yang menjual busana muslim anak. Secara keseluruhan, kondisi pasar terasa lengang, bahkan beberapa area dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat dengan duduk lesehan di lantai.

Kondisi serupa juga terlihat di Plaza Blok M. Sejumlah toko yang menjual pakaian, tas, maupun sepatu tampak minim pengunjung, bahkan jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Pengunjung yang datang umumnya merupakan pasangan muda dari kalangan menengah, baik yang sudah berkeluarga maupun belum. Banyak toko yang sama sekali tidak memiliki pembeli, sementara sebagian besar pengunjung hanya berkeliling mengitari pusat perbelanjaan. Ironisnya, area yang relatif lebih ramai justru berada di restoran-restoran di dalam mal, menunjukkan pergeseran fokus pengunjung dari belanja pakaian ke aktivitas kuliner.

Pilihan Editor: Mengapa Jumlah Pemudik Lebaran Turun dari Tahun ke Tahun