
PEMERINTAH Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjajaki kerja sama dengan Australia memperkuat ekosistem industri kulit.
“Fokus utama kerja sama ini mengintegrasikan ketersediaan bahan baku melimpah dari Australia dengan kemahiran teknis serta kreativitas pengolahan kulit yang menjadi ciri khas DIY,” ujar Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono usai bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin, 30 Maret 2026.
Siswo mengungkapkan inisiatif ini merupakan pengembangan logis dari hubungan dagang sektor peternakan yang sudah terjalin lama antara kedua negara.
Menurutnya, fondasi kuat perdagangan sapi Australia-Indonesia harus segera didorong menuju penguatan industri hilir.
Siswo menyebut rencana ini telah mendapatkan lampu hijau dari Kementerian Perindustrian dan Inovasi Australia yang melihat potensi besar pada posisi DIY sebagai sentra industri kulit tradisional di Indonesia.
“Hubungan perdagangan sapi antara Australia dan Indonesia sudah sangat maju. Ini fondasi kuat untuk melangkah lebih jauh ke industri hilirnya,” kata dia.
Menurutnya, kerja sama ini juga akan melibatkan sektor privat dengan kehadiran delegasi pelaku usaha dan pemasok kulit asal Australia serta perwakilan Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI).
Sebelum menemui Sultan, para delegasi Australia telah melakukan peninjauan lapangan ke sentra industri lokal, salah satunya Ndalem Kulit Jogja.
Kunjungan tersebut menghasilkan rencana pemanfaatan bahan baku kulit jenis wet blue asal Australia yang akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari barang kerajinan hingga instrumen budaya seperti wayang kulit.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati menjelaskan setiap lapisan kulit memiliki potensi ekonomi yang berbeda jika ditangani dengan keahlian yang tepat.
Penyerapan bahan baku berkualitas internasional ini diyakini akan memperkuat daya saing produk lokal di kancah internasional.
“Setiap bagian kulit memiliki potensi pemanfaatan berbeda, mulai dari bagian luar hingga dalam. Ini bisa dikembangkan menjadi beragam produk bernilai tinggi,” kata dia.
Yuna menilai kerjasama ini tidak hanya akan berdampak pada ekonomi DIY semata, namun juga mampu menjadi katalisator pertumbuhan industri serupa di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Juga membuka lapangan kerja baru, serta menciptakan ekosistem industri kulit yang berkelanjutan melalui penguatan rantai pasok dari bahan mentah hingga produk jadi.
Pilihan Editor: Sederet Catatan Evaluasi Angkutan Mudik Lebaran











