
kalselbabusalam.com NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026) setelah pasar dihantui kembali kekhawatiran inflasi global. Lonjakan harga minyak akibat memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah membuat investor beralih dari aset berisiko ke obligasi pemerintah AS.
Tiga indeks utama Wall Street kompak anjlok lebih dari 1%. Indeks Dow Jones turun 1,07% ke 49.526,17, S&P 500 melemah 1,24% ke 7.408,50, sedangkan Nasdaq terkoreksi paling dalam sebesar 1,54% ke 26.225,15.
Tekanan di pasar muncul setelah harga minyak mentah melonjak tajam menyusul pernyataan keras Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang memicu keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata kedua negara.
Pasar juga khawatir gangguan di Selat Hormuz kembali memburuk dan mengganggu pasokan energi global.
Wall Street Ambruk: Harga Minyak Dekati US$ 100, Inflasi Mengancam!
Kenaikan harga energi tersebut langsung memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak Mei 2025.
Kondisi ini memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama dan memaksa bank sentral AS atau Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.
Kepala Strategi Pasar Slatestone Wealth, Kenny Polcari, menilai pasar sebelumnya terlalu terlena oleh euforia saham kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Pasar sudah bergerak terlalu jauh dan kurang memperhatikan sinyal dari pasar obligasi maupun data ekonomi,” ujarnya.
Meski Wall Street terkoreksi tajam, S&P 500 masih membukukan penguatan mingguan ketujuh berturut-turut, menjadi reli terpanjang sejak akhir 2023. Namun, Nasdaq menghentikan tren kenaikan enam pekan beruntun, sementara Dow Jones juga ditutup melemah secara mingguan.
Wall Street Ditutup Anjlok: Nvidia & Data Ketenagakerjaan AS Guncang Pasar Saham AS
Sentimen pasar juga dibayangi minimnya hasil konkret dari pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tingkat tinggi tersebut dinilai belum menghasilkan kemajuan berarti, termasuk terkait upaya meredakan konflik Iran maupun hubungan dagang kedua negara.
Managing Partner Keator Group, Matthew Keator, mengatakan pasar sebenarnya berharap ada komitmen besar dari pertemuan tersebut. Namun hasilnya lebih banyak dipandang sebagai upaya membuka kembali komunikasi antara Washington dan Beijing.
Di sisi lain, Jumat menjadi hari terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed. Pergantian kepemimpinan bank sentral AS turut menjadi perhatian pasar karena penggantinya, Kevin Warsh, berpotensi menghadapi tekanan untuk kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi akibat perang Iran terus meningkat.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS pun melonjak. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember kini mendekati 40%, naik tajam dari sekitar 13,6% sepekan sebelumnya.
Dari sisi sektoral, saham energi menjadi satu-satunya sektor yang menguat di S&P 500 dengan kenaikan 2,3%, seiring reli harga minyak. Sebaliknya, saham teknologi dan semikonduktor yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar justru terpukul paling dalam.
Indeks semikonduktor Philadelphia turun 4%. Saham NVIDIA anjlok 4,4%, sementara Advanced Micro Devices atau AMD turun 5,7%, dan Intel merosot 6,2%.
Di tengah tekanan pasar, saham Microsoft justru naik 3,1% setelah hedge fund Pershing Square milik investor Bill Ackman mengungkapkan kepemilikan saham baru di perusahaan tersebut.
Wall Street Ambruk, Dow Jones Masuk Zona Koreksi di Tengah Eskalasi Timur Tengah
Sementara itu, saham DexCom melonjak 6,6% usai perusahaan mengumumkan perombakan komite dewan direksi bersama Elliott Investment Management.
Adapun saham Ford Motor Company turun 7,5% setelah sebelumnya reli tajam dalam dua hari terakhir berkat optimisme terhadap bisnis penyimpanan energinya.
Secara keseluruhan, tekanan jual mendominasi perdagangan. Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang turun hampir empat kali lebih banyak dibanding saham yang naik.
Volume transaksi di seluruh bursa AS juga meningkat menjadi 19,32 miliar saham, di atas rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 18,13 miliar saham.











