
BANJARMASIN – KALSELBABUSALAM.COM
Di tengah kepulan asap hio yang wangi, umat Tri Dharma di Banjarmasin mulai memadati Kelenteng Po An Kiong pada Jumat, 7 Februari 2026. Mereka melaksanakan ritual Toa Pekong Naik, sebuah tradisi sakral mengantar para dewa ke langit seminggu menjelang perayaan Imlek 2577 Kongzili.
Tahun ini, suasana ibadah terasa lebih kontemplatif. Meski prosesi terlihat seperti rutinitas tahunan, maknanya menjadi sangat krusial bagi umat karena bertepatan dengan transisi menuju siklus Tahun Kuda Api.
Ritual Toa Pekong Naik merupakan simbol penghantaran dewa-dewi menuju langit. Tujuannya adalah untuk melaporkan segala amal perbuatan dan pekerjaan yang dilakukan manusia selama setahun terakhir di bumi.
Bagi komunitas Tionghoa, tahun Kuda Api dipercaya membawa energi yang sangat kuat dan dinamis. Namun, energi ini ibarat pedang bermata dua: penuh peluang sekaligus menyimpan risiko konflik yang sulit dikendalikan.
“Umat diharapkan bisa mengubah hati, menjaga diri, tetap sabar, dan tenang menghadapi masalah sosial maupun ekonomi di tahun mendatang,” ujar pengurus Kelenteng Po An Kiong terkait esensi ibadah di tahun yang penuh gejolak ini.
Ada yang berbeda dalam perayaan kali ini. Pengurus Kelenteng Po An Kiong secara resmi memutuskan untuk tidak melaksanakan atraksi Barongsai. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman di “Kota Seribu Sungai”.
Langkah tersebut diambil karena jadwal perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan masuknya Bulan Suci Ramadan. Dengan meniadakan keramaian atraksi Barongsai, pihak kelenteng ingin memastikan bahwa kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Banjarmasin tetap terjaga dengan harmonis.
Reporter: Muhammad.










