LEMBAGA pemeringkat dunia, Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) melaporkan Purchasing Manager’s Index atau PMI manufaktur Indonesia pada April merosot di level 49,1 secara bulanan. PMI Manufaktur pada Maret tercatat 50,1.”Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif di tengah perang Timur Tengah,” kata peneliti S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Mei 2026. S&P menilai penurunan produksi pada awal kuartal kedua tahun ini disebabkan oleh kenaikan harga, kekurangan pasokan bahan baku, hingga pelemahan daya beli imbas perang di Timur Tengah. Penurunan produksi merupakan yang kedua dalam dua bulan berturut-turut. S&P mencatat laju penurunan produksi meningkat dari Maret dan terus mengalami percepatan sejak Mei tahun lalu. Adapun kenaikan beban biaya yang menjadi faktor penurunan produksi manufaktur pada April menjadi yang terbesar sejak 2022, yang mendorong kenaikan harga terbesar selama 12,5 tahun. S&P mencatat inflasi biaya input mencapai level tertinggi dalam empat tahun. Perusahaan menanggapi kenaikan biaya input dengan menaikkan harga jual secara tajam sejak Oktober 2013. Produsen barang juga sedikit menurunkan aktivitas pembelian menanggapi penurunan kebutuhan output. Penundaan pengiriman dan kekurangan pasokan membuat perusahaan menggunakan inventaris pra-produksi yang ada untuk mendukung produksi. Pada waktu yang sama, stok barang jadi naik karena perusahaan menyimpan barang tidak terjual sebagai stok. Perusahaan mencatat penundaan pengiriman dan kekurangan bahan baku akibat perang yang membebani kinerja pemasok selama April. Akibatnya, waktu pengiriman dari pemasok mengalami perpanjangan hingga tujuh bulan berturut-turut. Menanggapi penurunan produksi, perusahaan menurunkan tingkat ketenagakerjaan pada April. Tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) tergolong sedang tetapi paling besar dalam sepuluh bulan terakhir. Pada waktu yang sama, perusahaan mencatat penurunan lebih lanjut pada tumpukan pekerjaan yang belum selesai. Pada bulan yang sama, S&P mencatat kenaikan kecil pada pesanan baru meskipun secara umum berkaitan dengan pesanan awal untuk menghindari kenaikan harga dan gangguan pasokan. Perbaikan didukung oleh pasar domestik, karena pesanan ekspor baru menurun. Survei S&P menyatakan sektor manufaktur Indonesia tetap optimis akan terjadi kenaikan volume produksi selama 12 bulan mendatang. Namun, tingkat kepercayaan tersebut turun ke level terendah dalam lima bulan terakhir. Adapun optimisme didorong peluncuran produk baru dan harapan berakhirnya konflik di Timur Tengah meskipun ada kekhawatiran perang akan berlanjut.Pilihan Editor: Industri Manufaktur Terjepit Harga dan Pasokan Bahan Baku

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.