OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mengutamakan pendekatan persuasif untuk mendorong konsolidasi bank-bank berkategori Kelompok Bank Bermodal Inti atau KBMI I. KBMI I merupakan kategori bank dengan modal inti terendah, yaitu sampai dengan Rp 6 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan konsolidasi diperlukan untuk menjadi dorongan terhadap kinerja bank yang dinilai stagnan pada saat ini. “Tentu pendekatan persuasif yang kami utamakan dulu. Kemudian mendorong konsolidasi atau eveluasi secara natural dan sukarela saja berdasarkan kajian bisnis yang sehat,” kata Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan yang digelar daring pada Kamis, 11 Desember 2025.

Dian mengatakan OJK telah mengeluarkan imbauan secara formal melalui surat kepada bank-bank KBMI I pada akhir Oktober lalu. Pada dasarnya, kata dia, OJK mengimbau setiap bank KBMI I untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh atas kinerja bisnis bank, termasuk permodalan, kualitas aset, model bisnis, serta prospek jangka panjang.

Menurut Dian, konsolidasi bank-bank KBMI merupakan agenda strategis yang perlu ditempuh secara hati-hati dalam rangka memperkuat struktur dan ketahanan perbankan nasional. Dia mengatakan salah satu pertimbangannya adalah dinamika perkembangan teknologi informasi dan akselerasi digitalisasi perbankan. “Kami juga melihat ada ketidakpastian kondisi ekonomi global serta meningkatnya serangan siber. Sehingga pertumbuhan bank yang sustainable itu perlu kami dorong terus,” ucap Dian.

Langkah Otoritas Jasa Keuangan dalam mendorong konsolidasi KMBI I mendapat dukungan dari Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi berpendapat konsolidasi bisa membuat bank-bank lebih efisien, produktif, dan berdaya saing.

Herry menuturkan, berdasarkan pengalamannya, ukuran merupakan salah satu faktor penentu kinerja bank. Menurutnya, bank dengan aset di bawah Rp 10 triliun cenderung susah untuk berkembang dan mendapatkan margin. Ia juga mengatakan bank-bank kecil akan kalah dengan bank KBMI IV yang secara skala sudah lebih besar; baik dari sisi jumlah cabang, ATM, pengembangan mobile banking, hingga jumlah karyawannya.

Dari segi efisiensi, kata Hery, bank besar juga menunjukkan kinerja yang lebih baik. Sebab, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) KBMI I mencapai hampir 83 persen. Sementara KBMI IV hanya mencapai 64 persen.

“Ini yang memang menurut kami perlu disikapi. Jadi ke depannya mungkin ajakan yang disampaikan oleh OJK untuk melakukan konsolidasi itu benar-benar bisa terjadi,” kata Hery dalam acara Bisnis Indonesia Group Conference 2025 di Hotel Raffles, Jakarta, Senin, 8 Desember 2025.

Pilihan Editor: Bahaya Sisa Anggaran Mengucur ke Koperasi Merah Putih

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.