Kawasan Malioboro di Kota Yogyakarta sekali lagi membuktikan statusnya sebagai magnet utama bagi para wisatawan. Selama periode libur Lebaran 2026 ini, destinasi ikonik tersebut tak henti dipadati pengunjung. Berdasarkan pantauan Tempo dan sebagaimana dilansir dari KalselBabusalam.com, keramaian telah terasa sejak Sabtu hingga Minggu, 21-22 Maret, terutama dari siang menjelang sore hingga puncaknya di malam hari.

Peningkatan volume kendaraan yang signifikan terlihat jelas di jantung kota ini, didominasi oleh pelat nomor dari luar daerah. Namun, tidak sedikit pula masyarakat dari berbagai kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang turut meramaikan Malioboro untuk berlibur bersama keluarga.

Wahyu (35), seorang pengunjung dari Kulon Progo, Minggu, 22 Maret 2026, menuturkan alasannya mengunjungi Malioboro. “Sengaja ajak keluarga ke sini karena dekat rumah masih banyak toko, warung, dan restoran yang libur,” ujarnya, menggambarkan suasana Lebaran yang masih terasa.

Antusiasme juga ditunjukkan oleh Rizky, yang membawa serta kerabatnya dari luar Yogyakarta, seperti Sragen dan Bandung, untuk menikmati liburan Lebaran. Mereka memilih kombinasi perjalanan yang menarik, “Pagi-siang sudah main ke pantai, lalu sore sampai malam jalan-jalan ke Malioboro,” kata Rizky, menunjukkan bagaimana Malioboro menjadi pilihan sempurna untuk menutup hari liburan.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Yogyakarta, Ajun Komisaris Polisi Alvian Hidayat, mengonfirmasi lonjakan ini. Ia mengungkapkan bahwa volume kendaraan dan kunjungan ke Malioboro telah meningkat pesat sejak Sabtu sore, dengan puncak kepadatan terjadi terutama pada sore hingga malam hari.

Diperkirakan, sekitar 300 ribu unit kendaraan per hari masuk ke Kota Yogyakarta, dan sebagian besar di antaranya mengarahkan tujuan ke Malioboro. Alvian menjelaskan bahwa lonjakan arus lalu lintas ini umumnya terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama antara pukul 17.00 sampai 19.00 WIB, kemudian meningkat lagi pada pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, sebelum akhirnya berangsur normal menjelang tengah malam.

Pergerakan wisatawan ini, tambah Alvian, banyak dipengaruhi oleh mereka yang baru saja selesai berkunjung dari wilayah Sleman, Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo. Mereka kemudian berbondong-bondong menuju pusat kota bersamaan dengan datangnya sore menjelang waktu Magrib.

Untuk mengantisipasi dan menjaga kelancaran arus lalu lintas di Malioboro, personel kepolisian dan dinas perhubungan telah disiagakan di berbagai titik strategis. Penempatan petugas ini mencakup jalur Gumaton, Pos Teteg, Sosrowijayan, hingga Titik Nol Kilometer.

Apabila kepadatan arus kendaraan mencapai titik tidak bergerak, petugas telah menyiapkan sistem buka-tutup di lokasi-lokasi rawan seperti di utara Hotel Grand Inna Yogyakarta. Jika volume kendaraan terus meningkat, arus akan dialihkan ke jalur Pasar Kembang untuk memastikan lalu lintas tetap lancar dan terkendali.

Bukan hanya itu, demi mencegah kelumpuhan lalu lintas akibat overload, petugas juga menerapkan skema barricade di ring luar dan dalam kota Yogyakarta. Langkah ini diambil untuk memastikan kota tetap bergerak.

Jika Malioboro sudah tidak mampu menampung kendaraan, rekayasa lalu lintas diterapkan. Arus dari Jembatan Kleringan akan diarahkan untuk berputar, dan akses hanya dibuka melalui Jalan Mataram. Selain itu, rekayasa di Simpang Kridosono dan Simpang Pingit juga telah disiapkan secara matang. Tujuannya adalah untuk memecah beban kendaraan yang mengarah ke kawasan Tugu dan Titik Nol KM agar arus lalu lintas tetap mengalir tanpa hambatan.

Khusus pada masa libur Lebaran ini, Pemerintah Kota Yogyakarta meniadakan kebijakan Car Free Night atau jalan bebas kendaraan bermotor di Malioboro. Keputusan ini diambil untuk memberikan kesempatan lebih luas bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana malam Yogyakarta dengan kendaraan pribadi atau transportasi umum.

Tingginya minat wisatawan ke Yogyakarta juga tercermin jelas dari data angkutan kereta api. Puncak kedatangan penumpang kereta api terjadi pada H+1 Lebaran, menunjukkan betapa populer daerah ini sebagai tujuan liburan.

Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, mengumumkan bahwa pada Minggu, 22 Maret, tercatat rekor tertinggi jumlah penumpang. Sebanyak 61.554 orang naik dan turun di wilayah Daop 6 Yogyakarta.

Dari total tersebut, jumlah kedatangan penumpang mencapai 32.854 orang, dengan Stasiun Yogyakarta menjadi titik kedatangan terpadat yang melayani 12.127 penumpang. Feni menjelaskan, “Rekor kedatangan tertinggi ini menandakan tidak hanya arus mudik, tetapi juga mulai bergeraknya masyarakat untuk berwisata memanfaatkan sisa cuti bersama.”

Lebih lanjut, Feni menambahkan bahwa keterisian tiket secara keseluruhan telah mencapai 86 persen, atau sebanyak 459.948 tiket dari total kapasitas yang tersedia hingga periode 1 April 2026, menggarisbawahi daya tarik Yogyakarta yang luar biasa pada musim liburan ini.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.