
KalselBabusalam.com, Jakarta – Cara makan bukan sekadar mengisi perut, melainkan sebuah proses krusial yang memengaruhi bagaimana tubuh mencerna makanan, menyerap nutrisi esensial, dan pada akhirnya, menentukan kondisi kesehatan kita secara keseluruhan. Pernyataan ini diperkuat oleh Dokter bedah terkemuka dari National Health Service (NHS) Inggris, Karan Rajan, yang juga dikenal sebagai kreator konten kesehatan. Beliau menekankan bahwa kecepatan makan memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan usus dan kesejahteraan tubuh.
“Ketika Anda makan terlalu cepat, Anda melewatkan beberapa mekanisme fisiologis yang dirancang untuk mengoptimalkan pencernaan,” jelas Dokter Rajan, seperti yang dilansir dari Hindustan Times. Penjelasan ini menggarisbawahi pentingnya setiap tahapan dalam proses pencernaan yang seringkali diabaikan.
Pencernaan sebenarnya dimulai bahkan sebelum makanan mencapai perut, tepatnya di dalam mulut. Di sinilah makanan dikunyah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sementara enzim amilase mulai bekerja memecah karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana. Proses awal yang optimal ini sangat vital untuk kelancaran pencernaan selanjutnya.
Namun, bagi mereka yang terbiasa makan terburu-buru dan tidak mengunyah makanan dengan benar, masalah dapat timbul. Makanan bisa mencapai usus dalam potongan yang masih terlalu besar. Kondisi ini memaksa bakteri usus bekerja jauh lebih keras untuk memecah karbohidrat yang belum tercerna sempurna, yang pada akhirnya seringkali berujung pada produksi gas berlebih yang tidak nyaman.
Dokter Rajan lebih lanjut menjelaskan bahwa semakin menyeluruh Anda mengunyah makanan, semakin efisien pula kerja enzim pencernaan dan semakin baik pula penyerapan nutrisi di seluruh saluran pencernaan. Dengan kata lain, kunyahan yang baik adalah kunci utama untuk mendapatkan manfaat maksimal dari setiap makanan yang kita konsumsi.
Selain itu, kebiasaan makan terlalu cepat juga berpotensi membebani sfingter esofagus bagian bawah, sebuah katup penting yang berfungsi mencegah asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Tekanan berlebihan pada sfingter ini dapat meningkatkan risiko terjadinya refluks asam dan rasa tidak nyaman seperti nyeri ulu hati, yang tentunya dapat mengganggu kualitas hidup.
Efek negatif lain dari makan terlalu cepat adalah pemicuan refleks gastrocolic yang berlebihan. Menurut Dokter Rajan, kondisi ini dapat menyebabkan dorongan mendadak untuk buang air besar atau bahkan diare, terutama pada individu yang menderita sindrom iritasi usus besar (IBS). Respons tubuh yang dipercepat ini menunjukkan ketidakseimbangan dalam sistem pencernaan.
Dokter Rajan juga menyoroti bahwa makan terlalu cepat menghambat saluran pencernaan untuk mencerna makanan dan menyerap nutrisi secara optimal. “Tubuh butuh waktu untuk mengeluarkan cairan pencernaan penting seperti empedu dan enzim,” ujarnya. Jika makanan dikonsumsi tergesa-gesa, tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk melepaskan cairan-cairan ini, yang berakibat pada pencernaan yang tidak tuntas dan penyerapan nutrisi yang buruk.
Tidak hanya itu, proses makan yang cepat juga mengganggu komunikasi penting antara usus dan otak. Hormon-hormon seperti kolesistokinin, GIP, dan GLP-1, yang berperan dalam mengirim sinyal kenyang ke otak, tidak memiliki cukup waktu untuk bekerja. Akibatnya, peluang untuk makan berlebihan pun meningkat, karena otak belum menerima sinyal bahwa tubuh sudah tercukupi. Oleh karena itu, Dokter Rajan menyarankan agar makan dalam porsi kecil dan secara perlahan dapat membantu mengatur refleks gastrocolic serta mencegah berbagai gangguan pencernaan.
Pilihan Editor: Begini Efek Makan Terlalu Cepat bagi Kesehatan


