
KalselBabusalam.com, JAKARTA – PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) mencatatkan sebuah paradoks dalam kinerja keuangannya sepanjang tahun 2025. Meskipun berhasil meningkatkan pendapatan secara signifikan, emiten perkebunan kelapa sawit ini justru membukukan penurunan pada laba bersihnya.
Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan SGRO melonjak mencapai Rp 6,44 triliun pada tahun 2025. Angka ini merepresentasikan kenaikan impresif sebesar 16,42% dibandingkan dengan perolehan Rp 5,53 triliun pada tahun sebelumnya, 2024. Kontribusi terbesar terhadap pendapatan ini masih berasal dari segmen produk kelapa sawit, dengan nilai Rp 6,23 triliun. Disusul oleh segmen kecambah yang menyumbang Rp 205,07 miliar, serta segmen lain-lain sebesar Rp 6,42 miliar.
Peningkatan pendapatan tersebut sayangnya diiringi oleh kenaikan signifikan pada beban pokok penjualan, yang mencapai Rp 4,31 triliun pada tahun 2025, melampaui Rp 3,76 triliun di tahun 2024. Meskipun demikian, SGRO tetap mampu mencetak laba bruto yang lebih tinggi, yakni Rp 2,13 triliun di tahun lalu. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 20,68% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dari Rp 1,76 triliun pada periode sebelumnya.
Namun, tekanan pada profitabilitas SGRO mulai terasa dari pos-pos pengeluaran lainnya. Perseroan mencatat arus keluar sebesar Rp 78,48 miliar akibat perubahan nilai wajar aset biologis. Lebih lanjut, beban operasi lain juga melonjak drastis menjadi Rp 808,89 miliar pada tahun 2025, naik tajam dari Rp 179,48 miliar di tahun sebelumnya. Kenaikan beban-beban inilah yang menjadi salah satu faktor kunci terkikisnya laba bersih SGRO.
Akumulasi dari berbagai faktor tersebut berujung pada penurunan laba bersih SGRO secara signifikan. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 504,77 miliar pada tahun 2025. Angka ini anjlok 44,26% jika dibandingkan dengan Rp 905,59 miliar yang dicapai pada tahun 2024. Imbasnya, laba per saham dasar SGRO juga tergerus, menjadi Rp 198 sepanjang tahun lalu, turun drastis dari Rp 412 di tahun sebelumnya.
Melihat posisi keuangan, total aset SGRO per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 9,96 triliun, mengalami penurunan dari Rp 10,7 triliun pada periode yang sama tahun 2024. Di sisi lain, total liabilitas perseroan justru meningkat menjadi Rp 4,92 triliun di akhir Desember 2025, dari Rp 4,49 triliun di akhir Desember 2024. Konsekuensinya, total ekuitas SGRO juga terkoreksi menjadi Rp 5,03 triliun pada akhir tahun 2025, turun dari Rp 6,21 triliun pada akhir tahun sebelumnya.
Terlepas dari tantangan pada laba bersih dan perubahan struktur modal, SGRO berhasil memperkuat posisi kasnya. Perseroan melaporkan kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 2,89 triliun per akhir Desember 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari Rp 840,6 miliar yang tercatat pada periode yang sama di tahun sebelumnya, menandakan likuiditas yang lebih baik.










