KalselBabusalam.com, JAKARTA — Kinerja para emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia belakangan ini mulai memperlihatkan sinyal perbaikan yang signifikan, didorong oleh strategi efisiensi internal yang ketat dan penguatan lini bisnis inti. Kendati demikian, valuasi saham-saham di sektor ini masih dinilai lebih cocok dan menarik untuk aktivitas trading jangka pendek dibandingkan untuk investasi jangka panjang.

Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menjelaskan bahwa saat ini perusahaan-perusahaan teknologi masih berada dalam fase optimalisasi operasional, bukan pada tahap ekspansi struktural yang agresif. Hal ini menandakan fokus pada peningkatan efisiensi dan profitabilitas dari bisnis yang sudah ada, ketimbang perluasan pasar secara besar-besaran.

Kondisi tersebut, menurut Wafi, menjadikan saham-saham teknologi lebih sesuai untuk tujuan trading dalam rentang waktu singkat. Ia menambahkan bahwa untuk dapat dipertimbangkan sebagai investasi jangka panjang yang menjanjikan, emiten teknologi masih memerlukan pembuktian berupa pencapaian arus kas operasional positif yang berkelanjutan dan pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) yang konsisten dari waktu ke waktu.

Wafi lebih lanjut berpendapat bahwa perbaikan kinerja yang terlihat saat ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental yang berkelanjutan. Oleh karena itu, potensi kenaikan harga saham di sektor ini masih sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar jangka pendek, daripada didasari oleh prospek fundamental yang solid.

Sejalan dengan pandangan tersebut, sejumlah emiten teknologi di Indonesia memang telah mulai menunjukkan sinyal perbaikan kinerja sepanjang tahun 2025. Terutama, lini bisnis seperti fintech, gaming, dan omnichannel kini menjadi andalan baru bagi raksasa teknologi seperti GOTO dan BUKA.

Salah satu contoh nyata adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), yang berhasil mencatatkan penyusutan rugi bersih secara signifikan. Perseroan membukukan kerugian bersih sebesar Rp1,18 triliun pada tahun 2025, angka ini turun drastis 77% secara tahunan dibandingkan kerugian Rp5,15 triliun pada tahun sebelumnya.

Di tengah berbagai potensi tantangan, termasuk isu geopolitik, saham Gojek (GOTO) tetap menunjukkan target yang ambisius. Dari sisi top line, GOTO berhasil mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun, meningkat 15,27% secara tahunan dari Rp15,89 triliun. Kinerja positif ini ditopang kuat oleh pertumbuhan solid dari bisnis fintech dan on-demand services.

Hans Patuwo, Direktur Utama Grup GoTo, menyampaikan bahwa GOTO telah mencatatkan kinerja yang sangat kuat baik di kuartal IV maupun sepanjang tahun 2025. Pencapaian ini ditandai dengan peningkatan Gross Transaction Value (GTV) inti sebesar 49% secara tahunan, serta perolehan Adjusted EBITDA yang mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang telah ditetapkan oleh perseroan.

“Seiring berlanjutnya momentum positif ini, kami optimistis dan telah menetapkan pedoman Adjusted EBITDA untuk tahun 2026 di kisaran Rp3,2–Rp3,4 triliun,” ujar Hans.

Hans melanjutkan, pertumbuhan laba diperkirakan akan terus berlanjut dan merata di seluruh lini bisnis, khususnya pada segmen Financial Technology dan On-Demand Services sepanjang tahun 2026.

Khusus untuk unit usaha On-Demand Services, GOTO memproyeksikan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat akan terjadi pada paruh kedua tahun ini. Proyeksi ini didasari oleh peningkatan kemampuan GOTO dalam melayani segmen pasar massal dengan lebih optimal.

PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) juga menunjukkan kinerja impresif dengan mulai mencetak laba bersih, menyusul strategi pivot bisnis yang mereka lakukan. Sepanjang tahun 2025, BUKA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,02 triliun, angka yang sangat kontras dari kerugian Rp1,37 triliun yang dicatatkan pada tahun sebelumnya.

Kontributor utama di balik pembalikan kinerja ini berasal dari segmen gaming, yang kini telah menjelma menjadi tulang punggung pendapatan perseroan. Kinerja ini terutama didorong oleh platform-platform unggulan seperti Itemku dan Lapakgaming.

Victor Putra Lesmana, Direktur Bukalapak, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa BUKA kini menempatkan prioritas utama pada kesehatan bisnis jangka panjang. “Tahun 2025 adalah momen penting bagi kami untuk memperkuat fondasi perusahaan dengan berfokus pada strategi yang dapat memberikan nilai jangka panjang kepada stakeholders kami,” ujarnya.

Di sisi lain, tidak semua emiten teknologi berhasil mencapai profitabilitas. PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli, misalnya, masih membukukan rugi bersih, meskipun di saat yang sama berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang solid.

Sepanjang tahun 2025, Blibli membukukan pendapatan sebesar Rp22,36 triliun, melonjak 33,77% secara tahunan. Namun, perseroan masih harus menanggung kerugian bersih sebesar Rp1,87 triliun. Meskipun demikian, angka kerugian ini telah menunjukkan tren perbaikan yang positif dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kusumo Martanto, CEO & Co-Founder Blibli, menegaskan bahwa perseroan tetap konsisten berfokus pada penguatan ekosistem omnichannel yang terintegrasi.

“Kami tetap fokus pada hal yang paling penting, yaitu membangun ekosistem omnichannel yang terintegrasi dan mampu bertahan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan, mitra pemegang merek, serta pemegang saham,” kata Kusumo.

Menurut Kusumo, integrasi ekosistem Blibli terus berkembang pesat melalui implementasi sistem keanggotaan terpadu dan program loyalitas yang secara efektif menghubungkan seluruh platform dalam ekosistem mereka.

“Kami berhasil meningkatkan pendapatan secara signifikan sekaligus memperbaiki kinerja profitabilitas kami. Kombinasi ini mencerminkan kualitas eksekusi strategi kami yang solid, bukan hanya sekadar pertumbuhan skala semata,” pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. KalselBabusalam.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.