Jakarta, IDN Times – Era baru kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), telah resmi dimulai. Kevin Warsh dilantik menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed oleh Presiden AS Donald Trump dalam sebuah upacara di Gedung Putih pada Jumat (22/5/2026) waktu setempat. Penunjukan ini menempatkan Warsh pada posisi kunci untuk memimpin bank sentral menghadapi dinamika ekonomi yang penuh gejolak dan tantangan tekanan suku bunga yang signifikan.
Pelantikan Warsh ini menjadi sorotan utama, tidak hanya karena perubahan kepemimpinan di institusi keuangan paling berpengaruh di dunia, tetapi juga karena keterlibatan langsung Presiden Trump. Trump secara terang-terangan menyatakan keinginannya agar Warsh menjalankan tugasnya secara independen, namun di sisi lain, ia juga menyoroti ekspektasinya terhadap arah kebijakan The Fed.
“Saya ingin Kevin benar-benar independen,” tegas Trump, dilansir dari CNBC pada Sabtu (23/5). “Jangan melihat saya, jangan melihat siapa pun.” Pernyataan ini cukup kontras dengan fakta bahwa Warsh adalah Ketua The Fed pertama yang dilantik di Gedung Putih sejak Alan Greenspan pada tahun 1987, sebuah indikasi kuat adanya campur tangan eksekutif dalam proses penunjukan yang menarik perhatian publik.
Trump Menginginkan Suku Bunga Turun
Dalam upacara pelantikan yang berlangsung, Presiden Trump tidak menyembunyikan harapannya terhadap era kepemimpinan Warsh. Ia secara eksplisit mengklaim bahwa di bawah arahan Warsh, suku bunga The Fed diharapkan dapat segera turun, sebuah aspirasi yang telah lama diutarakan Trump dan kerap menjadi bahan kritiknya terhadap kepemimpinan sebelumnya.
“Kalian lihat saja apa yang akan terjadi. Saya dulu punya Kepala The Fed yang buruk, dan sekarang saya punya Kepala The Fed yang hebat,” ujar Trump di Suffern, merujuk pada ketidaksepakatannya dengan Jerome Powell di masa lalu. “Kevin baru saja dilantik hari ini, dia hebat, dia akan menjadi luar biasa.”
Mandat Menjaga Stabilitas Ekonomi
Upacara pelantikan Warsh yang khidmat di East Room dihadiri oleh sejumlah tokoh penting negara, termasuk Hakim Mahkamah Agung Clarence Thomas dan Brett Kavanaugh, serta Ketua DPR Mike Johnson, bersama para politisi dan pejabat kabinet lainnya. Hakim Thomas memimpin pengambilan sumpah jabatan Warsh, menandai transisi kepemimpinan yang monumental ini.
Setelah resmi dilantik, Warsh menyampaikan komitmennya terhadap mandat utama The Fed. “Mandat kami di The Fed adalah menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja,” ucapnya. Warsh meyakini, dengan menjalankan tujuan tersebut secara bijaksana, jelas, independen, dan tegas, inflasi dapat ditekan lebih rendah, pertumbuhan ekonomi akan lebih kuat, pendapatan riil masyarakat akan meningkat, dan pada akhirnya, Amerika akan menjadi lebih makmur.
“Tak kalah penting, posisi Amerika di dunia juga akan lebih aman,” tambahnya, menekankan dampak global dari kebijakan The Fed yang akan ia pimpin.
Berorientasi pada Reformasi
Untuk merealisasikan misi tersebut, Kevin Warsh menegaskan visinya untuk memimpin The Fed yang berorientasi pada reformasi. Ia berjanji akan belajar dari keberhasilan dan kesalahan masa lalu, serta berani keluar dari kerangka dan model yang kaku dalam pengambilan kebijakan moneter. Ini semua akan dilakukan “sekaligus menjaga standar integritas dan kinerja yang jelas,” ujarnya, menggarisbawahi komitmennya terhadap tata kelola yang transparan dan bertanggung jawab.
Warsh kini tercatat sebagai Ketua The Fed ke-11 di era perbankan modern, mengambil alih posisi Jerome Powell yang telah menjabat selama delapan tahun. Powell, yang sering menjadi target kritik pedas Presiden Trump karena menolak memangkas suku bunga sesuai keinginan sang Presiden, akan tetap bertugas di The Fed sebagai gubernur. Keputusan Powell untuk tetap menjadi gubernur adalah langkah yang tidak biasa dan menjadikannya Ketua The Fed pertama dalam nyaris 80 tahun yang melakukan hal tersebut setelah lengser dari jabatan puncak.











