
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri karena putus asa tidak mampu membeli peralatan sekolah seharga kurang dari Rp 10 ribu, tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP).
“Sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar,” kata Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat melalui keterangan tertulis pada Rabu, 4 Februari 2026.
PIP merupakan bantuan tunai pendidikan dari pemerintah untuk siswa dari keluarga miskin atau rentan miskin agar tetap sekolah. Pada 2025/2026, PIP untuk siswa SD ditetapkan sebesar Rp 450 ribu per tahun.
Menurut Atip, PIP tersebut juga telah disalurkan sesuai mekanisme berlaku. Namun demikian, ia menuturkan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata. “Harus ada pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif,” ujarnya.
Kemendikdasmen menyampaikan turut berduka atas peristiwa yang menimpa siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut. Saat ini, Atip berujar Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga, termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya.
Atip kemudian mengajak seluruh pihak untuk menyikapi informasi ihwal peristiwa ini secara bijak. Atip mengimbau masyarakat bersama-sama menghindari penyebaran spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga korban dan komunitas sekolah.
“Kemendikdasmen menegaskan pentingnya dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, media, serta pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan suportif bagi anak, sebagai bagian dari upaya pencegahan peristiwa serupa di masa mendatang,” tutur Atip.
Seorang kelas IV siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebelumnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Kamis, 29 Januari 2026 lalu. Bocah itu ditemukan oleh kerabatnya dalam posisi tergantung di dahan pohon cengkeh di area kebun milik neneknya.
Menurut laporan Harian Kompas pada 3 Februari 2026, korban putus asa dengan keadaan yang dialaminya. Saat korban meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10 ribu, ibu korban menjawab bahwa mereka tak punya uang. Korban pun diduga mengakhiri hidupnya pada 29 Januari 2026.
Kapolda NTT Inspektur Jenderal Rudi Darmoko mengatakan hasil penyelidikan sementara memang menunjukkan korban mengakhiri hidupnya akibat masalah ekonomi. “Motif utama karena hal itu (ekonomi), namun masih didalami,” kata Rudi pada Rabu, 4 Januari 2026.
Hingga ini proses penyelidikan masih terus berlangsung. Polisi memeriksa sejumlah saksi, lalu melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menyita sejumlah barang bukti, untuk membuat terang perkara.
Vedro Immanuel Girsang berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor:Eksklusivitas Sekolah Garuda yang Terus Bertambah
Catatan Redaksi
Jangan remehkan depresi. Untuk bantuan krisis kejiwaan atau tindak pencegahan bunuh diri, Dinas Kesehatan Jakarta menyediakan psikolog gratis bagi warga yang ingin berkonsultasi tentang kesehatan jiwa. Terdapat 23 lokasi konsultasi gratis di puskesmas Jakarta dan bisa diakses peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.
Konsultasi juga bisa dilakukan secara online melalui laman https://sahabatjiwa-dinkes.jakarta.go.id. Selain itu, konsultasi lanjutan bisa dijadwalkan dengan psikolog di puskesmas apabila diperlukan.
Selain mengontak Dinas Kesehatan DKI, Anda dapat menghubungi lembaga berikut ini untuk berkonsultasi.
Yayasan Pulih: (021) 78842580
Hotline Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan: (021) 500454
LSM Jangan Bunuh Diri: (021) 9696 9293











