KAMAR dagang dan industri Indonesia (Kadin) memperkirakan Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansi untuk periode mendatang. “Berpotensi bertahan di zona ekspansi tipis, namun sangat rentan terhadap tekanan eksternal,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Saleh Husin, dalam keterangan tertulis, Rabu, 1 April 2026.

Pernyataan itu disampaikan Salih menanggapi penurunan kinerja manufaktur pada Maret yang utamanya disebabkan penurunan permintaan dan produksi imbas konflik di Timur Tengah.

Lembaga pemeringkat dunia, Standard & Poor’s Global Ratings (S&P), melaporkan PMI manufakturIndonesia pada Maret merosot di level 50,1 secara bulanan. PMI Manufaktur pada Februari tercatat 53,8.

Terhadap situasi manufaktur terkini, mantan Menteri Perindustrian itu yakin kinerja sektor masih ekspansi, tetapi sangat rentan terhadap faktor eksternal. Menurut Salih, pelemahan volume ekspor akan berdampak langsung terhadap sektor padat karya melalui penurunan utilitas, tekanan margin, hingga potensi pengurangan tenaga kerja.

Maka dari itu, kinerja manufaktur Indonesia sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, dan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri.

Pada 1 April 2026, S&P melaporkan PMI manufaktur Indonesia merosot pada bulan ketiga tahun ini. “Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah,” kata peneliti S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam keterangan tertulis, Rabu.

S&P melaporkan perang antara Amerika dan Israel dengan Iran, yang memicu kenaikan harga pasokan dan bahan baku, berpengaruh terhadap penurunan permintaan dan produksi di sektor manufaktur. Penurunan tingkat produksi pada Maret terjadi setelah empat bulan tumbuh dan mengalami kenaikan terbesar pada Februari. Panelis menilai penurunan ini tergolong tajam sejak Juni 2025.

Panelis menilai penurunan produksi mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material yang utamanya dipengaruhi eskalasi Timur Tengah dan gejolak perekonomian global.

Pada saat yang sama, S&P mencatat penurunan volume permintaan baru untuk pertama kalinya setelah delapan bulan. Walaupun terjadi pada kisaran marginal, tetapi penurunan ini menggambarkan perubahan besar dari ekspansi besar-besaran yang dilakukan pada periode survei sebelumnya.

Adapun responden menyatakan penurunan permintaan mengurangi tekanan kapasitas sehingga perusahaan dapat menyelesaikan pekerjaan yang ada. Kondisi itu memicu penurunan tekanan kapasitas sejak Oktober 2025.

Berkurangnya penjualan menyebabkan kenaikan inventaris pascaproduksi karena barang yang tak terjual tertahan sebagai stok. Penurunan permintaan dan produksi memicu pengurangan tenaga kerja. Perusahaan melaporkan melakukan pemecatan berskala kecil setidaknya dua kali dalam tiga bulan.

S&P juga menyoroti proses waktu tunggu rata-rata pengiriman barang yang lebih lama enam bulan berturut-turut seiring dengan eskalasi Timur Tengah. Keterlambatan pengiriman ini menjadi yang paling tajam sejak Oktober 2021.

Dari sisi harga, inflasi harga input meningkat dibandingkan periode sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak Maret 2024. Walhasil, biaya output juga terkerek naik pada laju tercepat sejak Juni 2022.

Tingkat inflasi sangat kuat dan mencapai titik tertinggi selama dua tahun yang dipengaruhi kuat oleh kenaikan bahan baku akibat kekurangan dan penundaan pengiriman. Beban biaya input tersebut dialihkan perusahaan kepada klien dengan menaikkan harga pabrik secara maksimal sejak 2022.

Untuk jangka waktu ke depan, produsen Indonesia menunjukkan optimisme terhadap perkiraan tahun mendatang. Tingkat optimisme pada Maret naik dibandingkan bulan lalu yang didukung harapan perbaikan permintaan dan tidak terjadi eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah. Namun, tingkat sentimen berada di bawah rata-rata.

Pilihan Editor: Bom Waktu Kredit Macet UMKM

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.