
KEMENTERIAN Perindustrian mencatat indeks kepercayaan industri (IKI) pada Maret 2026 menurun sebesar 2,16 poin menjadi 51,6. “Selain itu, IKI juga melambat sebesar 1,12 poin dibandingkan dengan IKI Maret tahun lalu sebesar 52,98,” kata juru bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.
Febri mengatakan, penurunan kinerja industri pada bulan ketiga terjadi karena kombinasi beberapa faktor. Utamanya faktor musiman seiring dengan berlalunya sejumlah hari besar keagamaan seperti Imlek dan Lebaran. Kondisi itu membuat industri mengurangi produksi.
Berdasarkan informasi dari industri, Febri mengatakan beberapa pengusaha memilih mengurangi produksi karena berlimpahnya stok di gudang yang belum terdistribusi ke distributor atau pasar. Penumpukan stok itu terjadi karena pembatasan kendaraan logistik selama 16 hari sebelum dan sesudah Lebaran.
Selain itu, penurunan produksi pada Maret terjadi karena sejumlah industri mengalami lonjakan pada Januari dan Februari. “Sehingga pada Maret menurunkan produksi dan tetap mempertahankan stok di gudang sampai Lebaran,” kata Febri.
Febri mengatakan krisis energi akibat eskalasi Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap seluruh industri. Ia mengatakan, dampak dari konflik antara Amerika-Israel melawaran Iran masih terbatas pada industri tertentu. Utamanya sektor yang masih bergantung bahan baku dari Timur Tengah seperti petrokimia.
Dari 23 subsektor industri pengolahan, Febri mencatat 16 subsektor yang ekspansi sedangkan 17 lainnya terkontraksi. Febri mengatakan subsektor yang mengalami ekspansi berkontribusi sebesar 78,3 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB.
Adapun subsektor tertinggi adalah industri percetakan, reproduksi media rekaman, yakni industri yang memproduksi kemasan produk industri di hilir. Kemudian industri kendaraan bermotor, trailer, semi trailer.
Sementara industri yang mengalami kontraksi adalah minuman, pengolahan tembakau, kayu, barang kayu dan gabus, kimia dan barang dari barang kimia, hingga industri komputer.
Kementerian Perindustrian juga mencatat perlambatan kinerja industri yang berorientasi ekspor dan dalam negeri. Adapun kinerja industri ekspor pada Maret 2026 tercatat 52,73 atau melambat 1,88 poin dibandingkan dengan Februari 2026.
Hal yang sama terjadi pada perusahaan industri yang berorientasi pasar domestik, yang kinerjanya tercatat 50,44 atau melambat 2,68 secara bulanan.
Pilihan Editor: Tak Sungguh-sungguh Menghemat BBM











