
JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan depan diproyeksikan masih menghadapi tantangan signifikan, dengan kecenderungan pergerakan yang terbatas dan potensi pelemahan. Dinamika pasar ini sangat dipengaruhi oleh sentimen global maupun domestik yang terus berkembang. Dilansir dari Kontan, dan juga di KalselBabusalam.com, berikut adalah analisis mendalam mengenai prediksi IHSG.
Reza Diofanda, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, menjelaskan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan tren pelemahan. Kondisi ini terjadi setelah indeks tersebut mengalami breakdown atau penembusan ke bawah dari area support krusial di level 7.250. “Pergerakan indeks berpeluang menuju area support berikutnya yang diperkirakan berada di kisaran 7.000-7.100,” terang Reza, dilansir dari Kontan pada Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, sentimen pasar saat ini masih didominasi oleh sikap wait and see dari para investor, terutama menjelang periode libur panjang Nyepi dan Lebaran. Selain itu, para pelaku pasar juga dengan cermat memantau perkembangan konflik geopolitik yang berlangsung di Timur Tengah.
Reza menambahkan, kenaikan harga minyak dunia juga turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Hal ini dikarenakan potensi dampaknya terhadap kondisi fiskal domestik, yang bisa memicu inflasi dan menekan daya beli.
Dalam kondisi pasar yang masih diselimuti ketidakpastian ini, Reza menyarankan agar investor bersikap lebih selektif dan defensif dalam mengambil keputusan investasi. Strategi yang direkomendasikan adalah menunggu konfirmasi stabilisasi IHSG, khususnya di area support kuat pada kisaran 7.000-7.100, sebelum melakukan akumulasi secara bertahap.
Ia menilai bahwa sektor komoditas memiliki potensi untuk menunjukkan kinerja yang relatif lebih kuat dibandingkan sektor lainnya. Terutama sektor-sektor yang terkait dengan energi dan bahan baku seperti minyak bumi, batubara, dan minyak sawit mentah (CPO). Kinerja positif ini sejalan dengan kenaikan harga komoditas global yang dipicu oleh gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik yang sedang berlangsung. Namun demikian, sektor-sektor yang lebih sensitif terhadap tekanan makroekonomi dan arus modal asing berpotensi mengalami volatilitas yang lebih tinggi.
Secara teknikal, Reza melihat struktur jangka pendek IHSG masih berada dalam tren bearish setelah mengalami breakdown dari area support sebelumnya. Untuk pekan depan, ia memperkirakan level support IHSG berada di kisaran 7.000-7.100, dengan level resistance terdekat di area 7.300-7.400.
Sementara itu, Herditya Wicaksana, Head of Research MNC Sekuritas, mengungkapkan bahwa perdagangan pada awal pekan depan akan relatif terbatas karena hanya berlangsung selama dua hari sebelum memasuki periode libur panjang. “Untuk hari Senin, kami memperkirakan pergerakan IHSG masih rawan koreksi dengan level support di 7.071 dan resistance di 7.248,” ujarnya.
Menurut Herditya, investor masih akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta sentimen yang muncul dari periode libur panjang Nyepi dan Lebaran. Untuk perdagangan Senin (16/3/2026), Herditya merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati investor, antara lain PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pada kisaran Rp 2.030-Rp 2.130, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) pada kisaran Rp 1.465-Rp 1.575, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) pada kisaran Rp 1.800-Rp 1.855.











