Dilansir dari KalselBabusalam.com, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan saham hari ini, Selasa (28/4). Indeks acuan tersebut ditutup turun signifikan sebesar 0,48% ke level 7.072. Penurunan ini memperpanjang derita pasar modal domestik, mengingat IHSG telah “babak belur” dengan koreksi beruntun selama tujuh hari terakhir, total merosot 6,4%. Secara year-to-date (ytd), kinerja IHSG bahkan jauh lebih mengkhawatirkan, anjlok hingga 18,21%.

Pada penutupan perdagangan sore ini, kondisi pasar saham didominasi oleh pergerakan harga yang bervariasi. Tercatat, 339 saham berhasil menguat, namun jumlah saham yang terkoreksi justru lebih banyak, mencapai 350 saham, sementara 129 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi saham yang mencapai angka fantastis Rp 17,45 triliun. Volume perdagangan juga sangat tinggi, mencapai 31,89 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,14 juta kali frekuensi transaksi. Adapun kapitalisasi pasar IHSG pada hari ini berada di kisaran Rp 12.617 triliun.

Di tengah tekanan yang melanda IHSG, beberapa saham justru menjadi sorotan dengan adanya transaksi crossing bernilai jumbo. Transaksi crossing ini menandakan perpindahan kepemilikan saham dalam jumlah besar di luar pasar reguler. Salah satu yang paling menonjol adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan transaksi crossing sebesar Rp 1,51 triliun pada harga Rp 880 per saham.

Selain BSDE, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) juga mencatatkan transaksi crossing senilai Rp 385 miliar di harga Rp 5.500. Tak ketinggalan, saham-saham perbankan besar juga terlibat dalam transaksi serupa; PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melakukan crossing sebesar Rp 283,31 miliar pada harga Rp 4.417, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai transaksi Rp 272,43 miliar di harga Rp 5.981.

Deretan transaksi crossing jumbo berlanjut dengan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang mencatat nilai Rp 175,48 miliar di harga Rp 3.253. Kemudian, PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) dengan crossing sebesar Rp 132,26 miliar di harga Rp 9.766, serta PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang juga terlibat dalam transaksi senilai Rp 102,78 miliar pada harga Rp 2.792.

Pelemahan pasar juga tercermin dari kinerja sektor-sektor di BEI. Dari sebelas sektor yang ada, mayoritas atau delapan sektor terpantau berada di zona merah. Sektor nonsiklikal mengalami penurunan paling tajam, terkoreksi hingga 1,49%. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menjadi salah satu contoh yang terimbas, anjlok 2,30% ke level Rp 1.485.

Kondisi lesunya pasar tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga merata di bursa saham Asia. Seluruh indeks acuan utama di kawasan tersebut terpantau berada di zona merah. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,95%, Shanghai Composite di Tiongkok terkoreksi 0,19%, Nikkei di Jepang tergelincir 1,02%, dan Straits Times di Singapura juga menunjukkan pelemahan sebesar 0,14%.

Saham top gainers:

  • PT PP Presisi Tbk (PPRE) naik 34,75% ke Rp 159
  • PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) naik 23,98% ke Rp 212
  • PT Leyand International Tbk (LAPD) naik 34,21% ke Rp 102

Saham top losers:

  • PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) turun 8,33% ke Rp 1.705
  • PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) turun 7,11% ke Rp 2.350
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 5,69% ke Rp 1.325

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.