PERWAKILAN Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat cuaca ekstrem memicu terjadinya lonjakan inflasi pada Januari 2026. Padahal diakhir 2025, Bangka Belitung mampu mencapai target inflasi nasional dengan capaian 0,55 persen secara bulanan atau (month to month/mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Rommy Sariu Tamawiwy mengatakan kondisi cuaca ekstrem brrupa angin kencang disertai gelombang tinggi membuat nelayan memilih untuk tidak melaut. Kondisi tersebut, kata dia, mengakibatkan berkurangnya pasokan ikan dan cumi-cumi di pasar yang berdampak terhadap kenaikan harga.

“Hal itu mengakibatkan Bangka Belitung mengalami inflasi sebesar 0,28 persen pada Januari 2026 atau lebih rendah dibandingkan dengan periode Desember 2025 yang mengalami inflasi sebesar 0,55 persen,” ujar Rommy kepada wartawan, Rabu, 4 Februari 2026.

Menurut Rommy, angka inflasi tersebut tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,15 persen (mtm). Inflasi Bangka Belitung pada Januari 2026, kata dia, utamanya didorong oleh kenaikan indeks harga Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 0,67 persen (mtm) dengan komoditas utama yang memberikan andil yaitu ikan tenggiri, ikan selar dan cumi-cumi.

“Secara tahunan atau year on year (yoy), Bangka Belitung juga mengalami inflasi sebesar 3,95 persen. Sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy). Namun, tekanan inflasi tahunan yang lebih dalam tertahan oleh Kelompok Pendidikan yang mengalami deflasi sebesar 13,19 persen (yoy),” ujar dia.

Rommy menuturkan secara spasial seluruh wilayah Bangka Belitung yang disurvei mengalami inflasi dengan Kabupaten Bangka Barat tercatat sebagai wilayah yang mengalami inflasi tertinggi yakni mencapai 5,36 persen (yoy).

“Kemudian diikuti oleh Kota Pangkalpinang dan Tanjungpandan yang mengalami inflasi masing-masing sebesar 3,69 persen (yoy) dan 3,29 persen (yoy). Sementara Kabupaten Belitung Timur tercatat sebagai wilayah yang mengalami inflasi terendah yakni sebesar 3,09 persen (yoy),” ujar dia.

Rommy menambahkan Bank Indonesia terus bersinergi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan mitra strategis lainnya dalam rangka menjaga inflasi pada rentang yang rendah dan stabil sejalan dengan target nasional yakni 2,5 plus minus 1 persen.

“Kondisi tersebut dibutuhkan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Rommy.

Pilihan Editor: Dana Gentengisasi Tak Sampai Rp 1 Triliun

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.