
KalselBabusalam.com – Insiden penembakan terhadap Pesawat Smart Air di Bandara Korowai Batu, Distrik Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, telah menimbulkan dampak serius yang mengkhawatirkan. Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Anis Hidayah mengungkapkan bahwa sejumlah guru dan tenaga kesehatan terpaksa mengungsi akibat peristiwa tersebut, diliputi kekhawatiran akan potensi eskalasi lanjutan di wilayah tersebut.
Anis menegaskan bahwa kondisi ini secara langsung mengganggu akses layanan dasar vital seperti kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat setempat. Situasi pasca-insiden penembakan ini dinilai sangat rawan terhadap berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Kelumpuhan pelayanan dasar di Boven Digoel, ditambah dengan dugaan penyisiran yang dilakukan oleh kelompok sipil bersenjata (KSB) terhadap masyarakat non-orang asli Papua, semakin memperburuk keadaan.
Komnas HAM menduga kuat bahwa pelaku penembakan pesawat Smart Air adalah kelompok sipil bersenjata yang diyakini juga terlibat dalam serangkaian teror dan kekerasan sebelumnya. Di antara insiden yang diduga terkait adalah penembakan pesawat komersial di Yahukimo pada 14 Januari 2026 yang menggagalkan kunjungan wakil presiden, serta pembunuhan Daniel Datti, seorang pekerja bangunan di SMP YPK Yakpesmi, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Februari 2026.
Anis Hidayah mengecam keras tindakan keji tersebut dengan alasan apa pun. Menurutnya, segala bentuk serangan yang menargetkan warga sipil, baik dalam situasi perang maupun non-perang, yang dilakukan oleh aktor negara atau non-negara, merupakan pelanggaran berat terhadap hukum HAM dan hukum humaniter internasional. Tindakan semacam ini secara fundamental melanggar hak untuk hidup dan hak atas rasa aman, dua hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam kondisi apa pun.
Sebagai respons, Komnas HAM mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan investigasi yang profesional, transparan, dan tuntas guna menyeret para pelaku kekerasan dan pembunuhan ke meja hijau. Komnas HAM juga menyerukan kepada pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam memberikan perlindungan dan pemulihan bagi para korban, termasuk mereka yang luka maupun keluarga korban jiwa. Bantuan pemulihan yang dimaksud mencakup aspek kesehatan, psikologis, serta pemberian kompensasi yang layak. Selain itu, pemerintah dan aparat keamanan diminta untuk memastikan keamanan warga sipil pasca-penyerangan serta menjamin perlindungan bagi petugas pelayanan publik yang bertugas di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Komnas HAM turut menyerukan kepada Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) untuk menahan diri dan menghentikan segala bentuk kekerasan. Lembaga ini menekankan pentingnya mengutamakan penyelesaian permasalahan melalui jalur damai, sebab penggunaan cara-cara kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
Insiden penembakan itu sendiri terjadi saat Pesawat Smart Air berjenis A/C C208B Ex, yang dipiloti oleh Kapten Egon Erawan dan Kopilot Kapten Baskoro, tengah membawa 13 penumpang. Pesawat penerbangan perintis dengan rute Tanah Merah (TMH) – Korowai Batu (DNW) – Tanah Merah (TMH) itu diketahui berangkat dari Bandara Tanah Merah pada pukul 10.35 WIT. Informasi awal mengenai penembakan diterima oleh Polres Boven Digoel sekitar pukul 11.00 WIT. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, menjelaskan bahwa pesawat “pada saat mendarat mendapat penyerangan berupa penembakan ke arah pesawat dari arah hutan samping areal bandara.”
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 13.27 WIT, Polres Boven Digoel menerima informasi tragis bahwa insiden tersebut mengakibatkan meninggalnya dua orang, yakni pilot dan kopilot pesawat. Beruntungnya, 13 penumpang yang terdiri dari 12 dewasa dan 1 bayi berhasil selamat dari insiden mengerikan tersebut.
Menanggapi kejadian ini, Satgas Damai Cartenz segera mengerahkan 20 personel ke lokasi kejadian, bekerja sama dengan 12 personel Kopasgat TNI AU, untuk melakukan penyelidikan intensif dan pengejaran terhadap para pelaku. Koordinasi juga terus dilakukan dengan jajaran TNI AD guna mengamankan area bandara perintis yang merupakan akses vital bagi masyarakat pedalaman Papua tersebut. Satgas Damai Cartenz telah berhasil mengidentifikasi terduga pelaku penembakan pesawat Smart Air yang terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026 siang. Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz, Komisaris Besar Yusuf Sutejo, dilansir dari Tempo, menyebutkan bahwa identitas pelaku adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Yahukimo, termasuk kelompok yang dikenal sebagai “Batalion Kanibal” dan “Batalion Semut Merah”.
Pilihan Editor: Akar Masalah 700 Ribu Anak Papua Tidak Mengenyam Pendidikan
Hanin Marwah berkontribusi dalam tulisan ini











