
BNI Sekuritas Retail Report mencatat bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, di tengah kekhawatiran meningkatnya konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian arah suku bunga. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,18 persen, sementara S&P 500 melemah 0,37 persen dan Nasdaq terkoreksi 0,84 persen.
“Pelemahan ini terjadi meskipun investor sempat berharap adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam keterangan tertulis, Rabu, 25 Maret 2026.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kata dia, menyatakan negosiasi dengan Iran berjalan ke arah yang positif, dengan klaim bahwa Iran sepakat tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Namun, sentimen pasar kembali tertekan setelah muncul laporan rencana pengiriman tambahan ribuan pasukan AS ke kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan.
Menurut dia, kondisi tersebut turut mendorong harga energi tetap tinggi. Sektor energi menjadi penopang utama di Wall Street dengan kenaikan 2,05 persen. Sebaliknya, sektor komunikasi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,5 persen, diikuti sektor teknologi yang melemah 0,76 persen.
Dari sisi korporasi, saham Jefferies menguat 2,5 persen setelah muncul laporan rencana akuisisi oleh Sumitomo Mitsui Financial Group. Sementara itu, saham Estee Lauder anjlok 9,8 persen usai perusahaan mengungkapkan pembicaraan merger dengan grup kecantikan asal Spanyol, Puig Brands. Kekhawatiran juga muncul dari sektor kredit swasta.
Dia mengatakan bahwa Ares Management dan Apollo Global Management dilaporkan membatasi penarikan dana investor akibat meningkatnya permintaan pencairan. Saham Ares tercatat turun 1 persen, sedangkan Apollo naik tipis 0,7 persen.
Di kawasan Asia Pasifik, bursa saham justru mencatat penguatan. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 2,7 persen dan Kosdaq naik 2,2 persen. Di Jepang, Nikkei 225 menguat 1,4 persen dan Topix naik 2,1 persen, didorong oleh penurunan inflasi yang menunjukkan stabilisasi ekonomi.
Data Biro Statistik Jepang mencatat inflasi turun menjadi 1,3 persen pada Februari, lebih rendah dari 1,5 persen pada Januari dan di bawah target bank sentral sebesar 2 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong naik 2,8 persen, CSI 300 Cina menguat 1,3 persen, dan S&P/ASX 200 Australia naik 0,2 persen. Di sisi lain, indeks Taiex Taiwan melemah 0,3 persen dan FTSE Malaysia KLCI turun 0,7 persen.
Di dalam negeri, menurut Fanny, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelum libur panjang ditutup menguat 1,2 persen dengan dukungan aksi beli bersih investor asing sekitar Rp 155 miliar. Saham yang paling banyak dikoleksi asing antara lain EMAS, AADI, TLKM, ITMG, dan ARCI.
Fanny mengatakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan dengan level support di kisaran 6.950–7.000 dan resistance pada 7.170–7.300.
Pilihan Editor: Para Ekonom Menilai Ekonomi Indonesia Memburuk











