WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Amerika Serikat resmi meninggalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (22/1/2026).

Presiden Donald Trump mengumumkan niat AS untuk keluar dari organisasi tersebut pada hari pertama masa jabatannya pada 2025 melalui perintah eksekutif.

Menurut rilis dari Departemen Kesehatan dan Departemen Luar Negeri AS, pemerintah hanya akan bekerja sama dengan WHO secara terbatas untuk menjalankan proses keluar.

Baca juga: WHO dan 73 Negara Larang Asbes, Kenapa Indonesia Masih Pakai?

“Kami tidak berencana berpartisipasi sebagai pengamat, dan kami tidak berencana untuk bergabung kembali,” kata seorang pejabat senior kesehatan pemerintah AS.

Perselisihan atas pembayaran iuran

Menurut hukum AS, pemerintah seharusnya memberikan pemberitahuan satu tahun dan membayar seluruh iuran yang tertunda—sekitar 260 juta dollar AS (sekitar Rp 4,3 triliun)—sebelum keluar.

Namun, seorang pejabat Departemen Luar Negeri menegaskan bahwa undang-undang tidak mensyaratkan pembayaran harus dilakukan sebelum keluar.

“Rakyat Amerika telah membayar lebih dari cukup,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri melalui email pada Kamis.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) menyatakan bahwa pemerintah telah menghentikan kontribusi dana ke WHO.

Juru bicara HHS menambahkan bahwa Trump menggunakan wewenangnya untuk menunda transfer sumber daya pemerintah AS ke WHO karena organisasi itu telah menelan biaya triliunan dolar bagi AS.

Bendera AS juga telah diturunkan dari luar markas WHO di Jenewa pada hari Kamis, menurut saksi mata.

Reaksi global

Keputusan ini memicu krisis keuangan di WHO, yang mengakibatkan pengurangan separuh tim manajemen dan pemangkasan anggaran di seluruh lembaga.

AS selama ini menjadi penyumbang terbesar bagi WHO, memberikan sekitar 18 persen dari total pendanaan. WHO diperkirakan akan mengurangi sekitar seperempat stafnya pada pertengahan tahun ini.

Baca juga: Alasan Argentina Ikuti Jejak AS Keluar dari WHO

Banyak pakar kesehatan global menyatakan keputusan ini membawa risiko bagi AS, WHO, dan dunia.

“Penarikan AS dari WHO bisa melemahkan sistem dan kolaborasi yang diandalkan dunia untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman kesehatan,” kata Kelly Henning, pimpinan program kesehatan publik di Bloomberg Philanthropies, sebuah organisasi nirlaba AS.

Bill Gates, ketua Gates Foundation, mengatakan, dia tidak berharap AS akan mempertimbangkan kembali dalam waktu dekat, namun tetap mendorong agar negara itu bergabung kembali.

“Dunia membutuhkan Organisasi Kesehatan Dunia,” ujarnya.

Beberapa pengkritik WHO di AS bahkan mengusulkan pembentukan badan baru untuk menggantikan organisasi ini, meskipun dokumen proposal yang ditinjau pemerintahan Trump tahun lalu justru menyarankan agar AS mendorong reformasi dan kepemimpinan Amerika di WHO.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, bersama para pakar kesehatan global, selama setahun terakhir telah menyerukan perlunya pertimbangan ulang keputusan ini.

WHO juga mencatat AS belum membayar iuran untuk tahun 2024 dan 2025. Dewan Eksekutif WHO dijadwalkan membahas penarikan AS pada Februari mendatang.

Lawrence Gostin, pendiri O’Neill Institute for Global Health Law di Georgetown University, menilai tindakan ini melanggar hukum AS.

“Tapi kemungkinan besar Trump akan lolos dari konsekuensinya,” ujarnya.

Baca juga: WHO Umumkan Wabah Polio Merebak di Papua Nugini, Terkait dengan Strain di Indonesia

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.