BANJARBARU — KALSELBABUSALAM.COM Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan yang berlangsung lebih dari sebulan mendorong Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) mencari cara baru untuk mempercepat pemadaman. Salah satunya dengan menyuntikkan air dan cairan pemadam ke lapisan gambut serta membangun kolam penampungan air secara berantai hingga mendekati titik api.
Strategi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang digelar Polda Kalsel bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), instansi terkait, dan perwakilan relawan di Rupatama Polda Kalsel, Banjarbaru, Kamis, 3 September 2026.
Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol. Nur Khamid, S.H., S.I.K., M.M. mengatakan Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H. menekankan perlunya terobosan untuk mengatasi kendala pemadaman di lapangan.
Menurut dia, personel gabungan TNI, Polri, BPBD, dan relawan telah bekerja selama sekitar satu bulan. Namun, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu hambatan utama. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat menjalar di bawah tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.
Polda Kalsel kemudian memperkenalkan sejumlah metode yang telah diuji di beberapa lokasi rawan karhutla.
Salah satunya adalah sistem kolam portable dan estafet air. Petugas membuat kolam penampungan air bioflok berkapasitas 12.000 liter. Kolam-kolam tersebut ditempatkan secara berantai dengan jarak sekitar 200 hingga 250 meter menuju titik api yang berada di tengah lahan.
Metode ini ditujukan untuk mengatasi keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan pemadam maupun peralatan konvensional.
Selain itu, petugas memperbanyak penggunaan pipa khusus untuk menyuntikkan air dan cairan pemadam langsung ke dalam lapisan gambut. Teknik tersebut ditujukan untuk menjangkau titik api bawah tanah atau ground fire yang tidak selalu terlihat dari permukaan.
Suhu pada titik api bawah tanah itu disebut dapat mencapai 150 hingga 160 derajat Celsius.
Polda Kalsel juga mengembangkan cairan pemadam berbasis surfaktan ramah lingkungan yang diformulasikan oleh Bidlabfor Polda Kalsel. Cairan tersebut dicampurkan dengan air dengan perbandingan 1:100 untuk menghasilkan busa yang dapat bertahan lebih lama.
Menurut keterangan dalam rakor, busa itu digunakan untuk memutus suplai oksigen ke dalam tanah gambut sekaligus memperlambat penguapan air. Penggunaan cairan tersebut diklaim dapat menahan penguapan air hingga 50 persen.
Teknologi drone thermal turut digunakan untuk memetakan sebaran panas secara lebih akurat. Data dari drone dimanfaatkan untuk menemukan titik panas sekaligus memverifikasi kondisi lahan setelah proses pemadaman.
Uji coba teknik penyuntikan gambut dan penggunaan cairan pemadam telah dilakukan di sejumlah titik rawan, antara lain kawasan Pengayuan dan Guntung Damar. Berdasarkan hasil pemantauan drone thermal, terdapat penurunan suhu tanah secara signifikan dan titik asap di lokasi uji coba dinyatakan telah hilang.
Dari sisi biaya, cairan pemadam tersebut memiliki Harga Pokok Produksi (HPP) sekitar Rp14.800-Rp18.000 per liter. Polda Kalsel menyebut penggunaan cairan itu berpotensi menghemat kebutuhan air hingga 50 persen dibandingkan metode pemadaman konvensional.
Polda Kalsel kini tengah mendatangkan tambahan bahan baku sebanyak beberapa ton dari Surabaya dan Jakarta. Setelah seluruh bahan tersedia dan siap diproses Bidlabfor, pemadaman dalam skala lebih luas akan dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Sejumlah wilayah menjadi prioritas penanganan, yakni Muara Layuh, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, dan Barito Kuala (Batola).
Kapolda Kalsel juga dijadwalkan melaporkan hasil uji coba dan formulasi penanganan karhutla tersebut kepada Kapolri dan Wakapolri. Selain itu, dia akan menghadiri rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) sebagai bagian dari upaya mendukung penanganan karhutla di tingkat nasional.
Langkah tersebut dilakukan ketika karhutla di Kalsel masih menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat. Dengan metode baru tersebut, Polda Kalsel berupaya mengatasi persoalan utama pemadaman di lahan gambut: sumber air yang terbatas dan api yang terus menjalar di bawah permukaan.




