Jakarta, IDN Times – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengharapkan suspensi saham perusahaan bisa dicabut pada semester II-2026 ini.

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito (BW) mengatakan saham perusahaan telah dihentikan dari perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 18 Februari 2025.

“Target kami sih di semester II mestinya itu sudah dibuka,” kata Agung BW dalam media briefing di Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).

1. WIKA kejar pembayaran utang tahun ini

Adapun suspensi saham ditetapkan BEI karena WIKA gagal membayar kewajiban utang, baik kepada kreditur maupun obligor. Agung BW mengatakan, WIKA akan mulai melakukan pembayaran tahun ini, menunggu kesepakatan restrukturisasi saham dengan perbankan dan obligor rampung.

“Mudah-mudahan di semester I ini dengan restru-nya pun diperbankan maupun obligasi dan sukuk selesai, mestinya setelah itu kita di semester II sudah mulai fokus untuk membayar kewajiban sesuai dengan hasil perjanjian di semester I,” ucap Agung BW.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2025, dalam laporan liabilitas jangka pendek, WIKA masih memiliki utang pinjaman jangka menengah Rp80 miliar, pinjaman jangka panjang Rp879,71 miliar, obligasi Rp1,44 triliun, dan sukuk Rp1,12 triliun.

Dalam laporan liabilitas jangka panjang, WIKA masih mencatatkan utang pinjaman jangka menengah sebesar Rp1,54 triliun, pinjaman jangka panjang Rp20,44 triliun, obligasi Rp6,55 triliun, dan sukuk mudharabah Rp1,15 triliun.

2. WIKA fokus alokasikan dana untuk operasional

Agung BW mengatakan, pembayaran utang kembali difokuskan tahun ini, karena sebelumnya perusahaan fokus pada kebutuhan operasional. Salah satunya adalah pengerjaan proyek dari kontrak yang sedang berjalan.

“Kenapa kita fokus ke operasional dulu, kita bisa buktikan bagaimana progres (Jalan Tol) HBR 2 yang alhamdulillah tidak terhambat ya dengan proyek sebesar ini kita juga bisa melaksanakan proyek ini dengan baik,” tutur Agung BW.

3. WIKA turunkan utang hingga Rp3 triliun

Dalam laporan keuangan 2025, WIKA berhasil menurunkan beban keuangan sebesar 9,59 persen, dari Rp3,28 triliun pada 2024, menjadi Rp2,97 triliun tahun lalu. Liabilitas perusahaan pada 2025 juga turun 6,07 persen atau Rp3,13 triliun, dari Rp51,59 triliun pada 2024, menjadi hanya Rp48,46 triliun pada 2025.

WIKA juga mencatatkan penurunan pada utang usaha sebesar Rp1,79 triliun, dan utang berbunga sebesar Rp2,08 triliun, atau menurun 29,5 persen dan 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain mengupayakan operation excellence dan perbaikan struktur permodalan, perseroan melalui 8 langkah stream penyehatan keuangan juga terus mengupayakan percepatan penyelesaian piutang baik melalui mediasi hukum maupun upaya penagihan.

Perusahaan menurunkan nilai piutang sebesar Rp1,89 triliun atau sebesar 29,2 persen menjadi Rp4,58 triliun, dan nilai pekerjaan dalam proses konstruksi sebesar Rp1,15 triliun atau sebesar 34,6 persen di 2025.

“Kita kan juga penugasan-penugasan dari pemerintah juga kita laksanakan dengan baik. Artinya sebenarnya secara kemampuan cash, WIKA sebenarnya lebih baik dibanding sebelumnya. Bahkan di tahun 2025 kita juga malah penurunan utang cukup signifikan juga, sampai Rp3 triliun,” ujar Agung BW.

Bangun Tol Pelabuhan 2, WIKA Kantongi Kontrak Rp5,22 Triliun WIKA Rugi Rp1,8 Triliun Setiap Tahun Gara-gara Whoosh Kerugian WIKA Melonjak hingga 328 Persen, Kekayaan Menyusut Rp10 T!

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.