
kalselbabusalam.com Seorang psikolog anak terkenal sekaligus pemerhati anak, Seto Mulyadi turut menjadi sorotan masyarakat seiring viralnya buku Aurelie Moeremans ‘Broken Strings’.
Kak Seto (sapaan akrab Seto Mulyadi) dituding mengabaikan pengaduan Aurelie Moeremans terkait persoalan perlindungan anak.
Sorotan tersebut muncul setelah ayah Aurelie, Jean Marc Moeremans pernah mengajukan laporan tentang permasalahan kekerasan psikologis ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada 2010 silam, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Rabu (14/1/2026).
Salah satunya dari akun @mah*****, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: Dari Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, Ini 3 Cara Orangtua Cegah Anak Alami Child Grooming
Bagaimana laporan keluarga Aurelie pada 2010 silam?
Dalam laporannya, ayah Aurelie berharap Komnas PA mampu mengintervensi pihak yang dinilai menjadi sumber masalah sekaligus mempengaruhi hidup putrinya.
Tapi, aduan itu tidak ditangani sesuai harapan.
Aduan tentang praktik child grooming tersebut diajukan sekitar tahun 2010 silam.
Di mana pada masa itu, Kak Seto menjabat sebagai ketua umum Komnas PA.
Dikutip dari Kompas.com, Rabu (14/1/2026), ayah Aurelie merasa laporan yang dikirimkan ke Kompas PA tidak ditangani secara serius.
Malah dalam ceritanya, mereka dituduh bahwa keluarganya dinilai terlalu agresif oleh petugas yang menerima laporan.
Kondisi tersebut memicu perbincangan publik hingga kekecewaan mengenai langkah perlindungan anak pada masa itu.
Baca juga: Fatherless Bukan Sekadar Absennya Ayah, tapi Buka Celah Child
Kak Seto angkat bicara
Di tengah ramainya perbincangan soal buku memoar ‘Broken Strings’ oleh Aurelie Moeremans, Kak Seto buka suara lewat Instastory pribadinya @kaksetosahabatanak pada Rabu (13/1/2026).
Sebagai informasi buku setebal 220 halaman tersebut menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang sarat luka, manipulasi, dan pergelutan untuk bertahan hidup.
Mengikuti kabar tersebut, Kak Seto menjelaskan bahwa cara pandang terhadap pendampiangan anak, relasi kuasa, hingga kerentanan remaja mengalami perkembangan signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Baca juga: Ramai Buku Broken Strings Aurelie Moeremans, Mengapa Pelaku Grooming Sering Denial?
“Halo sahabat, kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat (buku Broken Strings Aurelie),” tulis Kak Seto.
Menurut Kak Seto, pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan dilakukan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku di masa itu.
Namun, dia menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini jauh lebih menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan prespektif kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, serta ketimpangan kuasa.
“Oleh karena itu, kami menjadikan refleksi atas praktik masa lalu sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan,” kata Kak Seto.
Baca juga: Apa Isi Buku Broken Strings yang Ditulis Aurelie Moeremans?
Kak Seto kecam segala bentuk manipulasi, termasuk child grooming
Lebih lanjut, Kak Seto mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming kepada anak.
Dia menekankan bahwa, anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa.
“Kami menghormati keberanian siapa pun yang memilih untuk bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Kak Seto turut mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu tersebut dengan empati dan kebijaksanaan.
“Lalu fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan,” pungkasnya.
Baca juga: Broken Strings karya Aurelie Moeremans Buka Fakta Tahapan Emosi Anak Korban Child Grooming
(Sumber : Kompas.com/Andika Aditiya)











